IBU, kita pasti bisa Bangkit !

17 01 2012

Tanggal 22 Desember diperingati hari ibu, tentu hapal kan dengan lirik lagu “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia.” Lirik ini mengandung ungkapan begitu agungnya dedikasi ibu kepada kehidupan kita. dipastikan, siapa pun yang mendengarnya dengan penuh keimanan, hatinya akan tersentuh dan malu akan tingkah laku kita yang menganggap biasa kasih sayang dan pengorbanan besar seorang ibu. Tak terbantahkan kawan, membahagiakan ibu adalah kewajiban. Ia telah mengandungmu dalam rahimnya berhari-hari dan berbulan-bulan. ia memeliharamu dengan segenap jiwa sepanjang waktunya. Melimpahkan segala dayanya untuk melindungimu. Ia tidak peduli kesenangannya, sedangkan engkau diberi kebahagiaan sepenuhnya. Apa yang diharapkannya sering tergadaikan, tetapi impianmu selalu dinyatakan. Maka, apalagi yang membuat kita ragu untuk mempertanyakan “Kapan terakhir kali kaulihat ibumu benar-benar merasakan kebahagiaan bersamamu?”.
Jika bicara tentang ibu teringat potret nasib perempuan saat ini, termasuk nasib ibu-ibu kita, menjumpai betapa perempuan di berbagai belahan dunia saat ini masih jauh dari kemuliaan dan kesejahteraan. Tak sedikit fakta perempuan hari ini yang masih berada di kubangan keterpurukan. Kemiskinan, kebodohan, kekurangan pangan-sandang-papan, derajat kesehatan buruk pun masih menghiasi wajah perempuan dunia. Belum lagi soal ancaman keamanan dan kehormatan seperti pelecehan, kekerasan, eksploitasi dan sebagainya.
Potret buram nasib perempuan di abad 21 ini tak bisa dilepaskan di era globalisasi yang didrive oleh sistem saat ini. Gelombang globalisasi saat ini harus dibayar mahal dengan kenyataan bahwa 2/3 angka buta huruf dunia serta 3/5 angka penduduk dunia termiskin masih diwakili oleh kaum perempuan. Inilah paradoks globalisasi yang dipimpin oleh sistem kapitalisme. Untuk kemajuan bagi perempuan disikapi oleh pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia dengan upaya pemberdayaan perempuan, akses pendidikan dibuka selebar-lebarnya untuk perempuan, begitupun akses ekonomi. Perempuan dipersilahkan untuk bertarung mengakses ekonomi demi “kemajuan dan kesejahteraan” yang didambanya. kemudian kaum perempuan menerjuni hiruk pikuk dunia kerja hingga tidak sedikit melupakan peran pentingnya ketika sudah menjadi seorang ibu. Di Indonesia saja, data Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut jumlah perempuan bekerja mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah perempuan bekerja 38,6 juta orang pada tahun 2006 dan meningkat menjadi 42,8 juta pada tahun 2008.
Cerita Umar bin Khattab dengan seorang Ibu Pemasak Batu. 
Kala itu Umar sedang berjalan-jalan berkeliling malam hari, dalam gubuk terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil. Si ibu berkata kepada anak-anaknya, “Tunggulah…! Sebentar lagi makanannya matang.” Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu, “Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu ?” tanya Sang Khalifah. “Mereka sangat lapar,” jawab si ibu. “Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?” tanya Khalifah. “Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.” jawab si ibu. Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Khalifah serasa teriris-iris. Kemudian Khalifah bertanya lagi, “Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?” “Ia telah zalim kepada saya…,” jawab si ibu. “Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya”. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!” kata si ibu. Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiri dan berkata, “Tunggulah sebentar, Saya akan segera kembali.” Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak. Jarak antara Madinah dengan rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata, “Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu.” Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal. Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab. Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.
Luar biasa Jika ada Sang Pemimpin negara seperti Khalifah Umar,lalu bagaimana dengan sistem yang diterapkan saat ini dan pemimpinnya.
Sistem yang diberlakukan saat ini adalah sistem kapitalisme, dengan standar produktivitas materinya menyeret perempuan seolah sebagai  mesin produksi devisa negara. Kaum ibu harus pula memberikan kontribusi dalam produksi barang dan jasa, karena bagi kapitalisme, peran ibu tidak memberikan sumbangan bagi penambahan pendapatan nasional. Fakta ini jauh berbeda dengan nasib para ibu di zaman kegemilangan Islam.
Kesuksesan program ala kapitalisme harus didukung asumsi : (1) Produktivitas harus diukur secara materi. Perempuan tidak berpendapatan dipandang tidak produktif bila tak punya penghasilan/ pendapatan. (2) Perempuan berpendapatan menurunkan KDRT. Perempuan berpendapatan akan meningkat bargainingnya di hadapan suami. Perempuan berpendapatan tak perlu khawatir menuntut cerai karena telah mandiri berpenghasilan. (3) Cerai bukan persoalan, namun pilihan kemandirian perempuan kapitalisme dengan paket pemberdayaan ekonomi kaum ibu bukan jalan keluar bagi kemiskinan bangsa.
Penyebab kemiskinan bangsa : 
(1) Negara menyerahkan pengelolaan kekayaan alamnya yang berlimpah kepada asing.
(2) Pengelolaan perekonomian ala kapitalisme. Kas yang ada disimpan untuk cadangan devisa. Pembangunan infrastruktur menggandeng investor asing yang berhitung keuntungan, bukan pelayanan.
(3) Kebobrokan mengelola negara. Pengeluaran negara sia-sia untuk fasilitas mewah pejabat, kunjungan-kunjungan yang menyedot uang negara, kolusi, korupsi dan nepotisme. Ini bukti bahwa Kapitalisme tak akan pernah mengentaskan kemiskinan bangsa. Bahkan pemberdayaan perempuan ala kapitalisme menyebabkan : (1) Menurunnya kualitas peran ibu di setiap rumah tangga. (2) Ketaatan istri pada suami akan berkurang, khususnya bila penghasilan suami lebih rendah daripada penghasilan istri. Pelayanan istri terhadap suami dipandang melecehkan perempuan. (3) Istri yang lebih berdaya secara ekonomi tidak lagi memerlukan suami untuk menafkahi dirinya. (4) Ketidakpercayaan diri kaum laki-laki. Suami menjadi malas mencari nafkah untuk keluarga. (5) Krisis rasa tanggung jawab para suami dan menjadikan mereka kerdil dihadapan istri. (6) Para suami kehilangan identitas sebagai pelindung, pengayom dan pemimpin keluarganya. (7) Pengangguran para suami tetap tidak terselesaikan. (8) Memicu keretakan dalam rumah tangga. Anak-anak akan kehilangan peran ibu, para suami kehilangan peran istri.
Kembalikan peranmu IBU !
Islam menjamin peran pokok perempuan yang sesungguhnya, yakni menjadi ibu dan pengelola rumah tangga. Peran utama kaum perempuan adalah penopang utama ketentraman dan ketenangan dalam keluarga. Kesempurnaan peran perempuan sebagai ibu akan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang akan mengantarkan umat islam menjadi terdepan dalam kancah perpolitikan internasional. Kekuatan peran kaum perempuan sebagai istri, mitra sejati suami, pendamping yang dikasihi, akan memunculkan sosok-sosok laki-laki sebagai pemimpin keluarga yang mumpuni, pemimpin umat yang mandiri, pejuang yang tangguh, yang tak akan tertipu skenario busuk menyesatkan, yang tak akan pernah bertekuk lutut di hadapan negara-negara penjajah/imperialis.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.
By,Gusmawati Mahasiswi FKIP UNLAM Banjarmasin

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: