Muhasabah Langkah Dakwah

2 01 2012

BKLDKPada sebuah lembaga dakwah kampus (LDK), akan selalu terdapat mekanisme yang disebut suksesi kepengurusan. Suksesi, atau pergantian kepengurusan, merupakan suatu yang alamiah di organisasi manapun, terlebih dalam sebuah lembaga kampus yang pergantian orang-orangnya relatif lebih cepat seiring penerimaan dan kelulusan mahasiswa. Dalam sebuah suksesi pula, terdapat mekanisme penentuan garis besar kebijakan yang akan dijalankan untuk satu periode mendatang. Satu periode, yang biasanya berarti satu tahun kepengurusan. Namun sebelum dapat merumuskan kebijakan, perlu ada evaluasi terhadap kebijakan dan program-program yang dijalankan periode sebelumnya.

Kadang aktivis dakwah kampus masih menerima dan menjalani hal ini sebagai sesuatu yang built in semenjak organisasi dakwahnya berdiri. Akan tetapi, pada filosofinya hal ini merupakan suatu manifestasi refleksi, atau dalam istilah Islam lebih dikenal sebagai muhasabah. Ini merupakan pula bentuk riil dari perwujudan kata-kata Umar bin Khattab r.a., “hasiibu anfusakum, qabla anthuhasaabu, -hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab”. Terkait muhasabah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam kitab Madarij al-Salikin, menyebutkan bahwa muhasabah tidak akan berguna apabila tidak disertai bersama empat hal. Hal yang pertama adalah adanya al-yaqzhan, yang diartikan sebagai kegelisahan seolah terjaga dari sebuah tidur lelap. Tidur lelap ini adalah serupa tidur yang melalaikan, serupa keadaan zona nyaman yang mapan sempurna. Apabila organisasi dianggap telah sempurna, maka tidak akan pernah ada muhasabah. Maka pada dasarnya, tidak ada organisasi yang sempurna, sehingga perlu senantiasa diadakan perbaikan dan perbaikan. Dengan adanya al-yaqzhan, maka akan muncul kesadaran untuk melakukan pembenahan di sisi yang memang kurang.

Kedua, perlu al-azm (tekad kuat) untuk menempuh jalan perbaikan. Tidak jarang, bara hasil suksesi sebuah lembaga hanya cukup memanaskan dalam kurun waktu yang kurang dari satu periode. Oleh karenanya, tekad adalah suatu unsur penentu. Tekad yang bulat akan mengantarkan lembaga dakah kampus untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan, dan mencari penuntun yang dapat menyampaikannya ke tujuan. Seberapa tinggi kesadaran yang dimiliki, maka sebulat itu pulalah sebuah tekad. Dan semakin bulat sebuah tekad, maka semakin jauh pula persiapan yang akan dilakukan. “Kemudian apabila kamu sudah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Terjemahan Q.S. Ali Imran: 159).

Ketiga, harus ada al-fikrah, yaitu pemikiran benar yang fokus. Pemikiran yang tertuju pada sebuah tujuan yang jelas, bukan pada rintangan yang mungkin ditemui hingga tak gentar olehnya. Olehnya, lembaga dakwah kampus tidak akan terjebak oleh hal-hal yang pragmatis, sehingga dapat melencengkannya dari fokus yang hendak diraih. Dan bahwa tujuan sebenarnya dakwah kampus, ada pada titik akhir untuk melanjutkan kehidupan Islam. Dengan adanya al-fikrah, maka lembaga dakwah kampus akan mampu terus berjalan di dalam batasan koridor syar’i.

Terakhir, muhasabah yang benar perlu disertai adanya al-bashirah. Adanya al-bashirah memunculkan cahaya di dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, surga dan neraka, serta apa yang dijanjikan Allah bagi para wali dan musuh-Nya. Dengan adanya al-bashirah, para aktivis dakwah kampus melihat hakikat pengabaran para rasul, seakan-akan mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dengan demikian, mereka dapat mengambil manfaat dari seruan para rasul dan melihat adanya bahaya yang mengancamnya jika bertentangan dengan seruan rasul. Salah satu pengabaran rasul yang terkait erat dengan tujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam adalah sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.[] Oleh : Dimas G. Randa (Ketua Umum Gema Pembebasan)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: