AS TERORISME YANG SEBENARNYA

22 11 2011

Perang melawan terorisme bukan merupakan jargon baru yang didengungkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Kampanye ini bukanlah sebuah proyek yang bebas nilai atau steril dari kepentingan. Sebaliknya, terorisme telah menjadi sebuah isu yang didesain sedemikian rupa, dimanfaatkan oleh AS untuk lebih mencengkeramkan hegemoninya di seluruh dunia tanpa kecuali.
Target opini yang dibidik dari setiap peristiwa nyata sekali menguntungkan AS dan sekutunya. Pertama, munculnya situasi tidak aman di masyarakat. Akhirnya, masyarakat merespon dengan sikap sangat hati-hati terhadap sesama kaum muslim, apalagi dari kalangan penggiat dakwah. Sikap tersebut tentu saja menjadi kendala terhadap masuknya dakwah ke tengah-tengah masyarakat. Iklim yang penuh ketegangan dan kecurigaan terhadap pendakwah sudah barang tentu dapat mengkristalkan semangat islamphobia. Kedua, munculnya mental “tertuduh”. Masyarakat senantiasa menyalahkan umat Islam saat terjadinya aksi terorisme. Lebih parah lagi sikap “tertuduh” ini mengakibatkan adanya dikotomi umat Islam, yaitu umat Islam yang moderat, diasumsikan dengan anti terorisme dan cinta damai. Umat Islam yang fundamentalis, dicirikan dengan anti kompromi, anti Barat, dan radikal. Lebih parah lagi sikap “tertuduh” ini menyusup masuk kepada kelompok Islam ideologis. Bisa dibayangkan, untuk menghindari tuduhan-tuduhan miring tersebut, kelompok ini akhirnya mengubah fiqrah dan thariqah-nya sehingga sesuai dan sejalan dengan ciri Islam moderat. Bila ini sampai terjadi, AS sangat diuntungkan sekali, atau singkatnya AS telah dapat menghilangkan salah satu potensi yang dapat mengancam dirinya. Ketiga, terjebak mengikuti skenario AS. Mengikuti AS di sini adalah menganggap bahwa AS-lah dewa penyelamat yang akan menenteramkan dan membuat aman kehidupan. Terorisme hanya akan dapat ditumpas bila negeri ini secara totalitas tunduk di bawah keinginan AS. Selat Malaka, misalnya, kalau perlu menjadi pangkalan permanen militer AS jika hal itu dibutuhkan AS.
Sejak dulu AS memang tidak suka dengan perkembangan Islam. Itulah sebabnya AS sangat giat melancarkan serangan militer terhadap negara-negara berpenduduk muslim dengan dalih yang dibuat-buat sendiri. Selain serangan militer juga menyusun proyek pencitraan buruk seperti terorisme.
Terorisme adalah isu internasional yang muncul dari Amerika Serikat. AS saat ini adalah penguasa dunia karena itu harus ada penjagaan ideologi untuk mencegah kemunculan kekuatan lain. Isu terorisme lebih karena ketakutan Barat terhadap perkembangan Islam Ideologis.
Dalam kamus AS terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan negara-negara atau kelompok-kelompok “pemberontak”. AS menggunakan standar ganda dalam mendefinisikan terorisme, yakni penggunaan kekerasan untuk melawan kepentingan-kepentingan sipil guna mewujudkan target-target politis. Terorisme yang menjadi isu dunia saat ini adalah aksi kekerasan oleh kelompok tertentu untuk melawan dominasi AS. Sebenarnya AS-lah agenda setter dalam wacana terorisme ini. AS ‘menciptakan dua aktor terorisme, yakni Al-Qoidah (tingkat internasional) dan Jamaah Islamiyah (tingkat regional Asia Tenggara khususnya Indonesia).
Isu terorisme lebih karena ketakutan Barat (AS) terhadap perkembangan Islam ideologis. Isu terorisme mulai gencar sesaat setelah terjadi perang Tragedi 11 September 2001. Peristiwa membuka mata dunia bahwa teroris itu memang ada dan sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan serius. Sejak itu, semua negara Eropa mulai berada di belakang AS. Mereka menjadi pendukung setia untuk memerangi terorisme. Setiap negara oleh AS diwajibkan mendukung opini tersebut serta mengadopsi UU terorisme. Bila berani membelot, mereka akan berhadapan dengan AS.
Jika demikian, bukankah ada indikasi teroris itu adalah AS sendiri? AS menggunakan tekanan dan intimidasi terhadap setiap negara yang tidak mau mendukungnya. Walau sudah dilancarkan dengan sekuat tenaga, hasilnya pun tidak memuaskan, karena memang hanya ‘akal-akalan’ AS semata. Banyak negara yang terbukti ‘gagal’ menangani isu teroris itu, termasuk Indonesia. Inilah yang membuat AS gregetan sehingga wajar jika Indonesia disebut sarang teroris. AS ingin semua negara, termasuk Indonesia, tunduk pada kebijakannya.
AS menggunan standar ganda dalam mendefinisikan terorisme, yakni penggunaan kekerasan untuk melawan kepentingan sipil guna mewujudkan target-target politis. Jika terjadi kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam, walau belum terbuti secara hukum, sudah dicap sebagai tindakan teroris. Sebaliknya, ketika Israel merampok kehormatan bangsa dan penduduk Palestina, ia tidak pernah disebut sebagai tindakan teroris. Demikian juga, ketika AS menghancurkan Irak dengan membabi buta. AS tidak dikatakan sebagai negara teroris. Untuk itu kita umat Islam harus lebih cerdas menganalisis fakta yang terjadi. Siapa sebenarnya yang dicap teroris? Naif sekali jika kita masih berpikir AS adalah pahlawan. Sudah jelas war on terorrism ini hanyalalah alat untuk membendung kebangkitan Islam. Ironisnya, penguasa muslim di dunia ini lebih memihak AS. Ingatlah pesan Allah dalam firman-Nya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka.
Wallahu’alam bi ash-shawab. *Mujahiddah Balangan, aktivis MHTI Lingkar Kampus

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: