ILMU PENGETAHUAN BERKEMBANG PESAT DI DALAM NEGARA ISLAM

17 11 2011

Pernyataan bahwa agama bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sama sekali tak dikenal dalam Islam. Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua kemajuan ilmu pengetahuan diraih kaum muslim pada saat mereka berada dalam naungan hukum Islam, bukan pada saat Islam dipisahkan dari kehidupan mereka. Bahkan buku-buku sejarah karangan para penulis non-muslim mengakui kenyataan ini. Bukti yang lain adalah adanya berbagai kata yang biasa digunakan Barat, seperti alcohol, cipher, sugar, algebra, admiral, alchemy, atlas, coffe, cotton, dan sebagainya berasal dari istilah-istilah bahasa Arab. Banyak di antara kata-lata tersebut yang biasa digunakan dalam khazanah ilmu pengetahuan berasal dari negara Islam. Inilah indikasi bahwa budaya ilmiah sudah berkembang dengan baik.
Ilmu pengetahuan berkembang pesat dalam naungan Islam. Tidak ada penindasan sebagaimana yang dilkukan otoritas gereja di Eropa, yang mengakibatkan “era kegelapan”, sampai akhirnya masyarakat menghapuskan pengaruh gereja. Para pemikir Islam mendefinisikan dengan jelas dua jenis pengetahuan. Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-Muqaddimah, mengatakan bahwa pengetahuan (‘uluum) itu ada dua macam, yaitu ilmu thabi’i (alamiah) di mana manusia mendapatkannya melalui pemikirannya, dan ilmu naqly (pemberitaan) yang diperoleh manusia dari Yang Membuatnnya. Pertama, adalah pengetahuan yang bersifat rasional dan filsafat yang diperoleh seseorang dari pemikirannya sendiri. Dengan pemikirannya ia memperoleh topik-topiknya, masalah-masalahnya, dan seluruh bukti-buktinya, maupun juga aspek pengajarannya, sehingga melalui pengamatan dan pembahasan ia mengetahui yang benar dari yang keliru dengan potensi akalnya. Yang kedua, adalah pengetahuan-pengetahuan naqliyah (informatif), yang seluruhnya disandarkan pada berita-berita dari sumber syara’. Pada jenis yang kedua ini, akal tidak turut campur kecuali mengaitkan masalah-masalah yang bersifat cabang (furu’) ke masalah pokoknya (‘ushul).” Ibnu Khaldun juga mengatakan, “Pengetahuan-pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah dimiliki oleh seluruh umat manusia, karena manusia memperoleh pengetahuan tersebut melalui tabiat pemikirannya.”
Dalam penentuan hukum Islam, kaum muslim dilarang mengambil dari sumber-sumber lain kecuali dari nash-nash syara’. Allah Swt memerintahkan dan mewajibkan kaum muslim untuk merujuk pada petunjuk wahyu dalam mengatur urusan kehidupan. Kaum muslim memahami bahwa pengetahuan yang bersifat rasional dan alamiah terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari. Dalam wilayah ilmu murni, kita boleh menggunakan akal kita; atau mengambil pendapat-pendapat yang bersifat teknis dan ilmiah dari pemikiran orang lain. Sebagai contoh, bila seseorang hendak merancang mesin mobil, ia boleh merujuk pada rancangan mesin yang sudah ada tanpa perlu mempertimbangkan lagi siapa yang membuatnya, muslim atau non-muslim. Ilmu-ilmu murni tidak melibatkan sudut pandang seseorang tentang kehidupan, baik kapitalisme, budhisme, atau Islam. Ilmu murni memberikan pemahaman yang sama bagi semua orang.
Dengan demikian, jelas bahwa kaum muslim terdahulu telah meraih tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi pada massa itu serta menjadi pelopor ilmu pengetahuan di berbagai bidang baru.
Dikutib dari buku “Warisan Peradaban Islam & Saintis Muslim” oleh Shahib al Kutb.
Wallahu’alam… Mujahiddah Balangan^_^

Iklan

Aksi

Information

2 responses

25 11 2016
Hudba

Setuju. Sayang generasi muda kita di Jakarta sekarang sudah terkena candu yang menyebar rata, kecanduan main game di warnet, browsing pornografi, komunitas social media yang jauh dari islam, idolakan tokoh2 hipokrit dari sinetron2. Mengabaikan perlunya penguasaan ilmu pengetahuan. Perlu usaha sungguh-sungguh dari para da’i untuk mengembalikan Alquran ke dalam sanubari generasi kita agar tidak terhempas dalam kehancuran, dihinakan orang kafir dan diusir dari tanah air kita ini.

25 11 2016
Hudba

Setuju. Sayang generasi muda kita di Jakarta sekarang sudah terkena candu yang menyebar rata, kecanduan main game di warnet, browsing pornografi, komunitas social media yang jauh dari islam, idolakan tokoh2 hipokrit dari sinetron2. Mengabaikan perlunya penguasaan ilmu pengetahuan. Perlu usaha sungguh-sungguh dari para da’i untuk mengembalikan Alquran ke dalam sanubari generasi kita agar tidak terhempas dalam kehancuran, dihinakan orang kafir dan diusir dari tanah air kita ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: