Baiat Aqabah II

13 11 2011

Upaya Rasulullah saw. melakukan aktivitas thalab an-nushrah (menawarkan Islam sekaligus meminta jaminan untuk membela Islam, Rasulullah saw, dan kaum Muslim kepada tokoh-tokoh kabilah) terus berlangsung hingga beliau mendatangi sekitar 40 kabilah. Pada tahun ke-11 dari kenabiannya, sebagaimana kebiasaan beliau pada musim haji dengan mendatangi kabilah-kabilah yang datang ke kota Makkah, beliau bertemu dengan sekelompok orang suku Khazraj (yaitu enam orang) di suatu tempat di antara Makkah dan Mina. Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Kalian siapa?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang dari kabilah Khazraj.”
Rasulullah saw. balik bertanya lagi, “Apakah kalian adalah orang-orang yang bersahabat dengan orang-orang Yahudi?”
Mereka menjawab, “Ya, benar.”
“Apakah kalian bersedia duduk bersama kami untuk bercakap-cakap?” ajak Nabi saw.
“Baik,” kata mereka.
Setelah Rasulullah saw. berbicara kepada mereka dan mengajaknya untuk memeluk Islam, mereka berkata sambil berpandangan satu sama lain, “Demi Allah, sesungguhnya dia adalah seorang nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian. Karena itu, jangan sampai mereka (orang-orang Yahudi, pen.) mendahului kalian.”
Mereka bersedia memeluk Islam, lalu berkata, “Tidak ada kabilah yang saling bermusuhan begitu hebat seperti mereka (yaitu Aus dan Khazraj, pen.); masing-masing berusaha menghancurkan lawannya. Mudah-mudahan, bersama engkau, Allah akan mempersatukan mereka lagi. Kami akan mendatangi mereka dan mengajak mereka supaya taat kepadamu. Kepada mereka akan kami tawarkan agama yang telah kami terima darimu. Jika Allah berkenan mempersatukan mereka di bawah pimpinanmu maka tidak ada orang lain yang lebih mulia daripada engkau.”
Pada tahun berikutnya, 12 orang laki-laki dari Madinah datang menjumpai Rasulullah saw. di Aqabah. Mereka kemudian berbaiat kepada Rasulullah saw. Peristiwa ini dikenal dengan nama Baiat Aqabah I. Setelah pembaiatan selesai, utusan dari Madinah itu pun pulang. Bersama mereka Rasulullah saw. mengirimkan Mush‘ab bin Umair untuk mengajarkan al-Quran dan hukum-hukum Islam kepada mereka. Dari situlah Mush‘ab dikenal sebagai Muqri’ al-Madinah.
Pada musim haji berikutnya lagi, yaitu tahun 12 kenabian (622 M), Mush‘ab bin Umair kembali ke kota Makkah dengan disertai sejumlah besar kaum Muslim Madinah. Mereka datang dengan tidak mencolok, berbaur dengan jamaah haji lainnya. Jumlah mereka 72 orang, terdiri dari 70 orang laki-laki dan dua orang wanita. Mereka berjanji untuk bertemu dengan Rasulullah saw. pada pertengahan Hari Tasyriq.
Rasulullah saw. datang disertai oleh Abbas bin Abdul Muthalib (yang saat itu belum memeluk Islam). Abbas membuka pembicaraan, “Sebagaimana yang kalian ketahui, Muhammad berasal dari golongan kami. Kami telah menjaganya dari ancaman kaum kami, dan dari orang yang memiliki kedudukan yang sama. Dia dimuliakan kaumnya, disegani di negerinya. Namun, dia ditolak kaumnya untuk pergi mendatangi kalian dan bergabung dengan kalian. Jika kalian melihat bahwa kalian mampu menjamin dengan apa yang kalian katakan kepadanya, dan mampu melindungi dirinya dari orang-orang yang menentangnya, maka kalian dan apa yang kalian bawa menjadi tanggung jawab kalian semuanya. Akan tetapi, jika kalian melihat diri kalian akan menyerahkan dan menelantarkannya setelah dia keluar dari kota ini menuju kalian, maka sejak sekarang lebih baik tinggalkan saja dia.”
Lalu terjadi dialog singkat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan kepada mereka al-Quran dan berkata, “Aku mempercayai kalian untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak-anak kalian.”
Al-Barra mengulurkan tangannya untuk memberikan baiatnya kepada Nabi saw. seraya berkata, “Kami membaiatmu, wahai Rasulullah. Demi Allah, kami adalah generasi ksatria dan penduduk dari daerah yang penuh dengan peperangan. Kami mewarisi para pahlawan dan kami berasal dari pahlawan.”
Belum selesai al-Barra menuntaskan kalimatnya, ia dipotong oleh Abu al-Haitsam bin at-Tihan yang berkata, “Wahai Rasulullah, antara kami dan orang-orang Yahudi ada perjanjian. Kami berniat memutuskannya. Jika kami melakukan itu, lalu Allah memenangkanmu, apakah engkau akan kembali kepada kaummu dan meninggalkan kami?”
Rasulullah saw. tersenyum, kemudian menjawab, “Darah akan dibalas dengan darah, pukulan dengan pukulan lagi. Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dari diriku. Aku akan memerangi orang yang kalian perangi dan berdamai dengan orang yang kalian berdamai dengannya.”
Belum lagi mengulurkan baiatnya, Abbas memotong, “Wahai kaum Khazraj, apa kalian sadar arti dari pemberian baiat kepada laki-laki ini? Sesungguhnya kalian memberikan baiat kepadanya untuk memerangi seluruh bangsa, baik berkulit putih maupun hitam. Jika kalian melihat harta kalian habis diterjang musibah, dan tokoh-tokoh kalian terbunuh, apakah kalian akan menyerahkannya? Sejak sekarang, demi Allah, jika kalian melakukannya, itu berarti kehinaan dunia-akhirat. Namun, jika kalian menganggap diri kalian akan menepatinya dan mengajaknya ke Madinah (dengan membawa risiko) musnahnya harta benda dan gugurnya banyak tokoh, maka ambillah dia. Demi Allah, dia adalah sebaik-baik dunia dan akhirat.”
Kaum itu pun menjawab, “Kami akan mengambilnya meskipun dengan risiko musnahnya harta-benda dan terbunuhnya banyak tokoh. Wahai Rasulullah, jika kami memenuhi seruanmu, apa balasannya bagi kami?”
“Surga,” jawab beliau. Setelah itu mereka pun beramai-ramai membaiat Rasulullah saw. Usai berbaiat, Abbas bin Ubadah bin Niflah berkata, “Demi Allah yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, apabila engkau menghendaki, kami siap menyerang penduduk Mina dengan pedang-pedang kami esok hari.”
Rasulullah saw. menjawab, “Kita belum diperintahkan untuk itu. Kembalilah kalian ke perkemahan kalian.”
Peristiwa ini dikenal dengan nama Baiat Aqabah II atau dikenal juga dengan Bay‘at al-Harb (Baiat Perang).

Pelajaran dan Ibrah
Baiat Aqabah I, yang dilanjutkan tahun berikutnya dengan Baiat Aqabah II, merupakan keberhasilan aktivitas thalab an-nushrah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Dari dialog antara beliau, Abbas, dan kaum Muslim Madinah, tampak jelas bahwa syarat-syarat tokoh-tokoh Madinah itu sebagai ahl an-nushrah (ahl al-quwwah), yang sanggup melindungi dan menjaga Rasulullah saw. dari orang-orang yang menentangnya lebih dari pembelaan mereka terhadap anak-anak dan istri mereka. Mereka sanggup memperjuangkan risalah Islam, siap menghadapi seluruh bangsa yang ada di dunia yang akan menentang dan melawan kaum Muslim, dan bersedia menyerahkan tampuk kekuasaan dan pimpinan kepada Rasulullah. Dengan demikian, thalab an-nushrah bukan sekadar aktivitas menggalang dan mengontak tokoh-tokoh supaya mendukung dakwah dan risalah Islam, atau melibatkan mereka di dalam aktivitas dakwah Islam. Jika ini yang dimaksudkan, maka lebih tepat disebut dengan ittishalât wa at-tahrîk ashab fi‘aliyât (melakukan kontak tokoh dan menggerakkan mereka), atau ittishalât wa at-tahrîk al-mu‘ayyidîn (melakukan kontak terhadap orang-orang yang mendukung dakwah dan menggerakkannya).
Sasaran thalab an-nushrah adalah ahl al-quwwah (tokoh yang memiliki power), dan sanggup memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang dituntut Abbas maupun Rasulullah saw. dalam dialog di atas. Apabila mereka menolak, atau meminta syarat-syarat tertentu, sebagaimana yang dikemukakan oleh kabilah Amr bin Sha’sha’ah, maka dengan sendirinya mereka tidak layak untuk dimintakan nushrah-nya.
Peristiwa Baiat Aqabah II secara de jure sebenarnya adalah fenomena tegaknya Daulah Islamiyah. Sebab, kaum Muslim Madinah telah menyanggupi untuk membela Rasulullah saw., siap-sedia untuk menaati perintah beliau (termasuk memerangi seluruh bangsa yang ada di dunia), dan telah menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada beliau. Hanya saja, keberadaan beliau secara fisik masih di kota Makkah sehingga hal itu tidak memungkinkan bagi berfungsinya mekanisme kepemimpinan dalam sebuah negara.
Adanya tawaran dari Abbas bin Ubadah bin Niflah dan jawaban Rasulullah saw. menunjukkan, bahwa sampai detik itu kaum Muslim belum diperintahkan untuk menggunakan fisik (gerakan bersenjata) dalam dakwah dan penyebarluasan risalah Islam; meskipun kaum Muslim Madinah yang berbaiat di Aqabah siap-sedia. Kejadian tersebut mengindikasikan bahwa kaum Muslim Madinah adalah orang-orang yang serius, bersungguh-sungguh dengan ucapan dan baiatnya. Baru setelah Baiat Aqabah II usai dan menjelang hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah, turun ayat-ayat jihad, yaitu bertepatan dengan berdirinya Daulah Islamiyah secara de facto, karena beliau sudah ada di Madinah sebagai kepala negara.
Thalab an-nushrah adalah aktivitas politik dengan tingkat risiko yang amat tinggi. Oleh karena itu, Rasulullah saw. merahasiakan aktivitas ini. Kadang-kadang beliau sendiri yang melakukannya, kadangkala disertai oleh Abbas bin Abdul Muthalib. Bahkan respon enam orang dari Madinah yang memeluk Islam dan menyatakan kesanggupannya untuk datang lagi pada musim haji berikutnya, begitu pula kedatangan 75 kaum Muslim Madinah ke Aqabah, semua itu dirahasiakan dan tidak diketahui oleh para sahabat dan kaum Muslim lainnya. Hal ini menjadikan watak dakwah Rasulullah saw. dalam hal aktivitas thalab an-nushrah direncanakan secara hati-hati dan sistematis. Sebab, ujung (target) dari thalab an-nushrah, yaitu peristiwa Baiat Aqabah II, adalah kesanggupan ahl al-quwwah atau ahl an-nushrah untuk membela Islam sekaligus berhadap-hadapan dengan seluruh kekuatan yang ada di dunia, yang membenci Islam dan kaum Muslim. Itu berarti sikap menantang kafir Quraisy, menantang seluruh kabilah Arab yang kafir dan musyrik, menantang kekuatan Yahudi di Yatsrib dan Khaibar, bahkan menantang kekaisaran Persia dan kerajaan Romawi yang kafir, sebagai dua negara adidaya yang ada saat itu. [AF]

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: