Uang Sumberdaya Utama Demokrasi

17 10 2011

Boni Hargens,
Pengamat Politik UI
Nazaruddin memang patut diduga bersalah dalam berbagai kasus korupsi politik yang melibatkan dirinya. Namun tentu saja, mantan bendahara umum Partai Demokrat ini tidak main sendiri, itulah salah satu faktor mengapa proses pemulangan dirinya ke Tanah Air sangat lamban dan tampak tidak serius karena dikuatirkan akan menyeret petinggi Demokrat lainnya.
Selain kasus Nazaruddin, adakah skandal lain yang lebih besar di tubuh Demokrat? Seperti yang disebut pengacara senior OC Kaligis, kalau itu terungkap bisa membuat NKRI terpecah. Terkait itu, wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo berkomunikasi melalui surat elektronik dengan Pengamat Politik dari Universitas Indonesia Boni Hargens yang tengah menempuh studi di Berlin, Jerman. Berikut petikannya.
Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan Nazaruddin bahwa yang menang itu duit bukan demokrasi?
Fakta itu praktik yang lumrah dalam politik kita. Uang adalah sumberdaya utama dalam proses berdemokrasi kita. Ini memang karakter demokrasi liberal di mana pun di dunia ini. Makanya para ahli pendukung demokrasi liberal mengatakan bahwa ekonomi harus kuat sebagai fondasi untuk membangun demokrasi. Cuman, aturan main dalam politik kita kurang jelas sehingga praktik money politics yang liar sulit dikendalikan.
Mengapa seperti itu?
Praktek macam ini terjadi karena dua hal. Pertama, budaya politik belum mencapai tahap partisipatif yang mengharuskan setiap warga negaranya memiliki kesadaran yang penuh dan memiliki keputusan politik berdasarkan ideologi dan program kerja dari masing- masing partai politik.

Kedua, elite politik tidak memiliki ideologi yang jelas yang dampaknya adalah sulitnya mencari alasan untk menarik dukungan dari masyarakat dalam proses elektoral (pemilihan). Ini yang mengakibatkan cara-cara curang, uang, dan manipulasi lainnya dipakai sebagai alat untuk memenangkan pemilihan.

Skandal Nazaruddin ini merupakan kasus besar atau ada skandal yang lebih besar lagi yang tersembunyi?
Tidak mustahil ada yang lebih besar. Berdasarkan genesis pertumbuhan Partai Demokrat, yang dari 7 persen ke 22 persen dalam satu periode pemerintahan, menandakan ada yang tidak beres dalam proses pemilu.

Maksudnya Demokrat melakukan penggelembungan suara pada Pemilu 2009 lalu?
Sangat patut diduga.

Alasannya?
Pertumbuhan partai yang mendadak menjadi besar seperti ini melawan seluruh teori tentang pembangunan partai politik. Makanya orang dengan mudah yakin secara rasional bahwa ada yang tidak beres di balik proses pemilu.

Dari banyaknya kasus money politics dan pengelembungan suara, layakkah Demokrat dikatakan sebagai partai pemenang?
Dengan jawaban di atas, pertanyaan ini menjadi tidak perlu dijawab lagi.

Apakah benar bahwa Demokrat tempat pelarian para koruptor?
Faktanya toh begitu. banyak orang bermasalah yang selamat ketika bergabung di partai ini. Selain Nazaruddin kan sudah ada Johny Allen Marbun yang sebelumnya terjerat kasus korupsi. Terpidana kasus dugaan suap pembangunan dermaga dan fasilitas bandara di Indonesia bagian timur Abdul Hadi Djamal menyebut-nyebut Jhonny Allen menerima dana Rp1 milyar dari proyek itu. Tapi pernyataan Abdul Hadi itu tidak ditindaklanjuti.

Patut diduga juga mengapa Andi Nurpati begitu berhasrat untuk bergabung dengan Partai Demokrat, padahal saat itu ia masih duduk di kursi komisioner KPU. Padahal jelas dalam Pasal 19 Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilu, komisioner KPU minimal lima tahun tidak boleh aktif di partai politik.

Kader lain masih banyak yang belum terungkap. Terutama mereka-mereka yang turut terlibat dalam proses bailout Bank Century. Mereka bersembunyi di tubuh Demokrat.

Mungkinkah Nazaruddin akan kembali ke Indonesia?
Korupsi politik selalu terjadi secara kolektif. Banyak tangan yang terlibat di dalamnya. Tidak mungkin Nazaruddin mau dihukum sendirian. Apalagi ada dugaan bahwa para petinggi Demokrat terlibat. Selama konsesi belum jelas, tidak mungkin Nazaruddin kembali atau tepatnya dikembalikan oleh kawan-kawannya di Demokrat.

Jadi Nazaruddin ke luar negeri bukan karena murni keinginan sendiri tetapi memang ada keinginan dari Demokrat agar borok-borok partai tidak terbongkar?
Tidak mungkin Nazaruddin rela mencuci pakaian kotor kawan-kawannya sementara dia sendiri tidak selamat. Ini artinya dia tidak sendirian dan kepergiaannya ke luar negeri juga bukan keputusan sendiri kok.

Tetapi mengapa ketika di luar negeri, Nazaruddin malah mengumbar aib Demokrat lewat SMS dan BBM-nya?
Nazaruddin terus mencicil kasus korupsi Wisma Atlet dengan menyebutkan satu persatu nama-nama, meskipun mendapat respon yang beragam. Semakin lama nyanyian Nazaruddin akan tidak terkendali lagi. Dia akan menyanyi tanpa dirigen, tidak memerlukan ritme, semaunya sendiri dan bisa terbuka semuanya.

Setelah menyebut Wasekjen I Angelina Sondakh dan Waketu Badan Anggaran Komisi X DPR RI Mirwan Amir terlibat dalam kasus korupsi Wisma Atlet, Nazaruddin juga mulai menyerang nama petinggi Partai Demokrat seperti Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, kan?

Tujuannya?
Dengan menyebutkan satu-satu nama orang yang terlibat dalam kasus korupsi Wisma Atlet, diharapkan dapat membantu Nazaruddin untuk memperoleh hukuman seringan- ringannya atau malah dibebaskan pada akhirnya.

Apakah Nazaruddin asal tuduh?
Keleluasaan Nazaruddin yang mampu menyebutkan nama orang-orang yang dituduhkannya terlibat dalam kasus korupsi Wisma Atlet bukan tanpa alasan. Saat itu kan dia sebagai bendahara umum Demokrat, sehingga memiliki kebebasan bermain di semua ranah yang memungkinkannya berhubungan dengan banyak orang penting.

Mengapa SBY terlihat membela Anas Urbaningrum ketika diserang SMS dan BBM Nazaruddin bahwa Anas akan menjungkalkan SBY dengan dana Rp 600 milyar bila kongres luar biasa (KLB) digelar?
Tentu saja, karena Anas Urbaningrum adalah simbol penting Demokrat. Dia ketua umum. Kalau Anas terjerat, maka selangkah lagi SBY turut terjerat, entah dalam kasus apa yang jelas masalah hukum juga. Konsekuensinya rumit karena bisa berdampak pada masa depan pemerintahan.

SBY menyatakan itu semua upaya pecah belah dan tudingan kotor?
Ya, pecah belah dan tudingan dari orang internal sendiri. Antarkader sebetulnya tidak saling kenal. Karena ada satu poin dalam konsep kepartaian yang tidak dimiliki oleh para kader Demokrat umumnya, yakni memiliki motivasi dan tujuan yang sama. Motivasi dan tujuan yang sama ini tidak ada. Para kader bersatu karena ada perekat tunggal yakni SBY. Padahal masing- masing orang di dalam memiliki orientasi politik yang berbeda.

Gejala awal sudah jelas ketika pemilihan ketua umum yang lalu di Bandung. Jelas sekali sikut-sikutan terjadi antarkubu Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum. Ada kubu Marzuki Alie, tapi tak begitu agresif di permukaan dalam pertarungan itu.

Anas dibela, tapi mengapa Nazaruddin tidak segera dipecat?
Sudah jelas, karena ini menyangkut petinggi Demokrat lainnya dan dikhawatirkan nyanyian Nazaruddin akan semakin kencang membuka borok partai.

Mungkinkah Nazaruddin memegang kunci borok Demokrat yang lebih besar?
Tentu saja. Nazaruddin bekerja untuk partai. dia memberi makan partai dan petingginya. maka ia pasti ada dalam banyak kasus bersama banyak kawan. []

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: