Perang dan Damai di Palestina

17 10 2011

Oleh : Budi Mulyana

Perang dan damai adalah dua konsep kontradiktif yang selalu berdampingan. Secara fitrah manusia memimpikan hidup damai, bahkan perdamaian abadi, namun realitasnya nafsu manusia sering mendorong terjadinya konflik yang kadang berujung perang.

Itulah yang juga terjadi di bumi Palestina. Tanah yang kaya dengan dinamika sejarah ini sepanjang waktu diisi dengan peperangan dan perdamaian. Mulai dari zaman para nabi hingga kini. Dalam kohteks penyelesaian masalah Palestina, maka perang dan jalan damai pun menjadi pilihan.

Kekalahan Khilafah Turki Utsmani pada Perang Dunia I menjadikan Palestina berada pada Mandat Britain (Inggris Raya) pada tahun 1922 sesuai dengan perjanjian Sykes-Picot dalam rangka memuluskan janji Inggris kepada bangsa Yahudi dalam Deklarasi Balfour.

Inggris dengan mandat yang dimilikinya memanfaatkan kekuasaannya untuk memfasilitasi migrasi bangsa Yahudi dari berbagai penjuru Eropa dan Timur Tengah dan mempersiapkan pemerintahan Negara Yahudi. Hal inilah yang memicu Revolusi Arab 1936-1939 yang mengakibatkan 5.000 bangsa Arab terbunuh oleh pasukan Inggris.

Walau Majelis Umum PBB merancang pembagian wilayah Palestina bagi dua bangsa, Palestina dan Yahudi pads tahun 1947, namun Israel kemudian dideklarasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948. Merasa sudah selesai misinya, Inggris kemudian hengkang dari Palestina. Negara-negara Arab seperti Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel, maka terjadilah Perang Arab-Israel 1948.

Lelah berperang, 3 April 1949 dilakukan Persetujuan Gencatan Senjata 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB 1947.

Perang Palestina – Israel terjadi berulang baik dalam skala besar seperti Perang Enam Hari 1967, Perang Yom Kippur 1973 atau juga pertempuran dalam skala kecil yang sepanjang tahun tidak kunjung henti. Semangat jihad mengusir penjajah terus membara walau juga tergerus dengan cara-cara musuh yang juga terus berusaha memadam¬kan jalan mulia kaum Muslimin ini.

Alternatif jalur diplomatik, yang awalnya hanya sekadar pilihan, kemudian seolah menjadi satu-satunya jalan. Beberapa di antaranya, tahun 1978 ditandatangani Kesepakatan Damai Mesir Israel di Camp David. Dan tahun 1993 dibuat Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel.

Selain itu juga terdapat Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal. Termasuk di dalamnya sebagaimana yang dilakukan saat ini, upaya Palestina mendapatkan keanggotaan penuh di PBB.

Berbagai jalan diplomatik yang belakangan dilakukan oleh elite Palestina nyatanya tidak kunjung menjadikan bumi Palestina kembali ke pangkuan kaum Muslimin. Mestinya mereka berkaca pada sejarah.

Pada 1902, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara Yahudi, untuk kesekian kalinya menghadap Khalifah Abdul Hamid II. Setelah berbagai bujuk rayunya gagal, kedatangannya kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut.

Hertzl menyodorkan: (1) uang 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; (2) Membayar semua utang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; (3) Membangun kapal induk untuk peme-rintah dengan biaya 120 juta frank; (4) Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan (5) Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.

Khalifah menolak, ia tetap teguh dengan pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, melalui Tahsin Basya, ia menyampaikan, “Nasihati Mr Hertz agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milik¬ku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.”

Sultan juga mengatakan, “Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat Kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh karni selagi kami masih hidup.”

Jadi mau pilih jalan jihad yang mulia atau diplomatik yang tidak jelas ujung pangkalnya?

PERANG DAN PERJANIJAN PALESTINA – ISRAEL
1. Kekalahan Khilafah Turki Utsmani pada PD I menjadikan Palestina berada pada Mandat Britania (Inggris) sejak tahun 1922.
2. MU PBB membuat Rencana Pembagian Wilayah 1947.
3. Israel mendeklarasikan Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948. Inggris hengkang dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel.
4. Perang Arab-Israel 1948.
5. Persetujuan Gencatan Senjata 1949. 3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB.
6. Perang Enam Hari 1967.
7. Perjaniian Nasional Palestina dibuat pada 1968, Palestina secara resmi menuntut pembekuan Israel.
8. 1970 War of Attrition.
9. Perang Yom Kippur 1973.
10. Kesepakatan Damai Mesir-Israel di Camp David 1978.
11, Perang Lebanon 1982.
12. Perang Teluk 1990-1991.
13. Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993. 13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa “memerintah” di kedua wilayah itu. Arafat “mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai”.
14. 28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri.
15. 18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat.
16. Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal.
17. KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel.
18. Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina.
19. Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.
20. Peta menuju perdamaian (Road Map) 2002.
Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: