Indonesia Sudah Mengarah Kepada Liberalisasi Pangan

12 10 2011

Liberal-Logo.png (800×357) Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan importasi berbagai komoditas pertanian, di antaranya impor kentang yang saat ini terjadi. Harga jual kentang di tingkat petani anjlok hingga 50 persen akibat gencarnya impor kentang dari China, menunjukan bahwa Kemendag lebih pro liberalisasi pangan dibandingkan menyejahterakan dan meningkatkan produktivitas petani lokal.

“Kebijakan Kemendag memberikan izin terhadap importasi kentang, membuat petani kentang terpuruk dan tidak dapat menikmati harga yang optimum. Untuk kesekian kali Kementerian Perdagangan melegalisasi impor, semakin menegaskan setiap kebijakan tidak berpihak kepada petani namun kepada pasar,” cetus Rofi’ dalam siaran pers yang diterima Jurnalparlemen.com, Selasa (11/10).

Menurut Rofi’, impor hortikultura terus terjadi terjadi selama kurun waktu hampir 5 tahun terakhir. Kentang menjadi salah satu komoditas yang ikut serta di impor dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Harga kentang lokal mencapai Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram, namun saat ini harga kentang lokal berkisar Rp 4.000-Rp 4.500 per kilogram. Harga kentang anjlok di tingkat petani karena gencarnya impor kentang dari China. Kentang impor tersebut harganya hanya Rp 2.300 – Rp 2.500 per kilogram. Padahal selama ini kentang menjadi komoditas hortikultura yang banyak menyumbang devisa negara.

“Ibu Mendag (Mari Elka Pangestu) nampaknya tidak punya solusi lain dalam menstabilkan harga komoditas pertanian, selain dengan impor. Kebijakan perdagangan selalu dihiasi dengan impor, bawang putih impor, buncis impor dan beras impor. Importasi kentang tentu saja sudah sangat keterlaluan di tengah petani kentang menikmati harga yang bagus” tegas Rofi seusai rapat paripurna di Jakarta (11/10).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 1990 ekspor kentang Indonesia mencapai 69.353 ton. Negara tujuan ekspor meliputi Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Namun setelah ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) diberlakukan tahun 2005, ekspor kentang terus menurun. Tahun 2007 ekspor kentang turun menjadi 43.477 ton. Penurunan ekspor itu diikuti dengan lonjakan impor. Tahun 2007 impor kentang tercatat 43.872 ton, sementara tahun 2001 angkanya baru 10.077 ton. Lonjakan impor kentang dari China adalah imbas dari ACFTA. Secara keseluruhan mekanisme ACFTA masih menciptakan kondisi timpang bagi Indonesia.
Rofi’ menambahkan, “ACFTA hadir dalam semangat kesetaraan, namun yang terjadi saat ini terjadi ketimpangan. Komoditas pertanian China terus membanjiri pasar domestik, sehingga petani tidak pernah mendapatkan harga yang layak. Selain itu seringkali Kemendag tidak mampu meningkatkan daya saing ekspor petani dalam negeri, karena terlalu sibuk mengimpor komoditas pangan strategis. Rasa-rasanya kami tidak pernah mendengar prestasi yang luar biasa Kemendag mampu mendorong ekspor komoditas pangan lokal.”
Politisi PKS ini mendesak pemerintah perlu melakukan langkah koordinasi dan berkerja lebih keras di bidang pertanian, sehingga pada akhirnya setiap kebijakan mampu memberikan manfaat langsung terhadap petani. Segala daya upaya petani meningkatkan produksi pangan, harus disertai dengan perlindungan terhadap harga jual di tingkat pembeli. Sehingga impor tidak menjadi solusi pendek dalam memenuhi kebutuhan pangan selama ini. (yus/JP)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: