Tangkap Koruptor yang Sembunyi di Singapura!

2 10 2011

JAKARTA, – Indonesia harus merespons sikap Pemerintah Singapura mengenai ekstradisi. Karenanya pula, segenap aparat penegak hukum didesak segera melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk meminta pemerintah Singapura mengekstradisi sejumlah koruptor yang masih bersembunyi di negeri itu. Hal tersebut diungkapkan Anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo.
“Karena itu, saya mendesak KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung segera berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk memberitahu pemerintah Singapura perihal para tersangka dan terpidana koruptor yang selama ini bersembunyi di negeri itu,” .
 

Sikap dan posisi Singapura mengenai perjanjian ekstradisi dengan Indonesia telah dipertegas oleh Menteri Negara Urusan Luar Negeri Singapura, Masagos Zulkifli, pekan lalu. Masagos menegaskan, RI-Singapura tidak memerlukan penjanjian ekstradisi baru, karena perjanjian ekstradisi RI-Singapura sudah termuat dalam kesepakatan Bilateral tahun 1997.


Karena itu, untuk menangkap para buron koruptor yang bersembunyi di sana, Pemerintah Singapura hanya memerlukan informasi dari pemerintah Indonesia tentang status hukum para koruptor yang bersembunyi di Singapura. 


Saat ini, publik kita curiga bahwa puluhan tersangka koruptor bersembunyi di Singapura. Seperti Sujono Timan atau Anggoro Widjoyo, kakak terpidana Anggodo Widjoyo dll memang dibiarkan. Bahkan dijadikan “ATM” bagi sejumlah oknum penegak hukum.


“Persoalan sebenarnya terletak pada Indonesia sendiri. Secepatnya mendakwa yang bersangkutan, maka kami akan mengirimkan orang tersebut ke Indonesia,” kata Masagos.


Penegasan Masagoes itu merupakan penjelasan kepada publik Indonesia bahwa pemerintah maupun otoritas hukum Indonesia tak pernah melakukan komunikasi resmi mengenai status hukum sejumlah tersangka maupun narapidana koruptor yang telah menjadikan Singapura sebagai tempat persembunyian mereka. Pemerintah pun membiarkan dan menikmati saja saat publik Indonesia menuduh Pemerintah Singapura tidak kooperatif. 


Dalam konteks ini, bisa dikatakan bahwa Pemerintah Singapura sudah mengungkap borok dan kelemahan Pemerintah Indonesia. Polri sepatutnya menjalin kerjasama dengan Interpol. Kalau Nazaruddin saja bisa tertangkap di Kolumbia sana, mengapa para buron koruptor yang bersembunyi di Singapura menjadi begitu sulit? (rimnews)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: