Benarkah Masalah Korupsi dan Hukum di Negeri Ini, Hanya Masalah Akhlak?

21 09 2011

Melihat beragam kasus korupsi di negeri ini seperti tak ada penyelesaiannya. Rentetan kasus-kasus besar ‘termakan’ waktu dan para pelakunya masih dapat berlenggang kesana-kemari. Di lain sisi, seorang Mpok Minah dengan mudah menjadi pesakitan hanya karena tiga buah kakao yang dicurinya. Itupun karena kondisi ekonomi yang membelit.
Kemana keadilan yang dijunjung dalam sila kelima Pancasila negeri ini. Rakyat menjadi apatis terhadap hukum di Indonesia. Wajar bila kriminalitas meningkat, mulai dari yang kakap sampai kasus ‘secuil’ saja. Ada masalah pada hukum kita.
Perdebatannya adalah, apakah masalah korupsi dan hukum ini adalah masalah orang perorang yang gagal melaksanakan sistem peradilannya ? atau memang sedari awal kita salah dalam mengambil sistem hukum ? Disinilah perlu ada analisis lebih mendalam terkait problem hukum dan korupsi ini.
Dalam tulisan Jusman Dalle rubrik Pemuda dan Mahasiswa eramuslim, “Myelin” Mencegah Korupsi. Jusman terburu-buru mengambil kesimpulan atas tulisannya. “Oleh karenanya jelas bahwa dengan identifikasi objektif, kita akan menemukan jika permasalahan tersebut bukan berakar dari sistem hukum yang ada. Akan tetapi permasalahannya bersumber dari manusia-manusia yang tidak patuh pada hukum”.
Kita tidak menampik adanya kesalahan orang perorang dalam melaksanakan sebuah sistem atau mekanisme khususnya dalam perkara penegakkan hukum. Namun, kita juga mesti pandai melihat kondisi. Menjalankan sebuah sistem atau mekanisme yang salah adalah perbuatan yang salah. Apalagi mempersoalkan hukum, tentu akan memandang apa dan siapanya.
Sebuah artikel (Lawrence M. Friedman, The Legal System: A Social Science Perspective, New York: Russell Sage Foundation, 1975) disebutkan, “sistem hukum (legal system) adalah satu kesatuan hukum yang tersusun dari tiga unsur, yaitu: (1) Struktur; (2) Substansi; (3) Kultur Hukum”.
Hal ini dijelaskan oleh Ahmad Ali dalam persentase makalahnya di sebuah Seminar Nasional Meluruskan Jalan Reformasi, UGM, Yogyakarta, 25-27 September 2004 ‘Reformasi Komitmen dan Akal Sehat dalam Reformasi Hukum dan HAM di Indonesia’, (http://ugm.ac.id/seminar/reformasi/i-ahmad-ali.php).
Jika kita berbicara tentang sistem hukum, maka ketiga unsur tersebut secara bersama-sama atau secara sendiri-sendiri, tidak mungkin kita abaikan. Struktur adalah keseluruhan institusi penegakan hukum, beserta aparatnya. Jadi mencakupi: kepolisian dengan para polisinya; kejaksaan dengan para jaksanya; kantor-kantor pengacara dengan para pengacaranya, dan pengadilan dengan para hakimnya.
Substansi adalah keseluruhan asas-hukum, norma hukum dan aturan hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, termasuk putusan pengadilan. Kultur hukum adalah kebiasaan-kebiasaan, opini-opini, cara berpikir dan cara bertindak, baik dari para penegak hukum maupun dari warga masyarakat.
Melihat tiga hal yang mencakup sistem hukum di atas dikaitkan dengan apa yang terjadi pada hukum kita, semuanya bermasalah. Analisis penulis melihat, Jusman Dalle hanya terpaku pada hal yang sifatnya struktural saja. Padahal substansi dan kultur hukum yang berjalan juga turut bermasalah. Jartinya sistemnya memang bermasalah. Dan Jelas bahwa penyebabnya adalah sekulerisme yang nyata menjadi ‘akidah’ bangsa. Dimana urusan hidup manusia (termasuk hukum) dilepaskan dari agama (baca: Islam).
Secara substansi misalnya, hukum di Indonesia tidak berdasarkan pada hukum Islam mulai dari asas, norma dan aturan hukumnya. Islam sendiri memandang bahwa hukum mesti berasal dari Allah (Qs. An-Nisâ [4]: 65). Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam tidaklah dianggap beriman secara sebenar-benarnya sampai berhukum kepada hukum Islam yang dibawa Rasulullah SAW. Maka dari itu, berhukum dengan hukum Islam adalah wajib, sebaliknya berhukum kepada selain hukum Islam adalah haram (KH. M. Shiddiq Al Jawi, pengasuh pondok pesantren dan konsultan hukum Islam).
Hal ini berakibat pada kultur hukum yang terbentuk di Indonesia yakni kultur hukum dan kehidupan yang sekuler. Lagi pula Allah telah menekankan dalam Surat Al An’am ayat 57 dimana Allah berfirman “…ketetapan hukuman itu adalah wewenang Allah. Dia mengisahkan kepada Rasul-Nya kisah-kisah menurut yang sebenarnya. Lagi pula Dialah hakim yang paling baik”.
Masalah akhlak yang buruk sebenarnya juga disebabkan karena sistem sekulerisme yang memang memaksa masyarakat menjadi sekuler. Di satu sisi dia bersikap jujur, pemaaf, suka bersedekah dan melakukan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Namun di sisi lain ketika sistem sekulerisme diterapkan, ia dengan jujur menerapkan hukum-hukum selain Allah. Ia pemaaf atas orang-orang yang semestinya di hukum dengan hukum Islam. Serta ia bersedekah dengan uang-uang hasil dari riba yang ia peroleh.
Kitab Nidzam Al-Islam karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam bab Akhlak dalam pandangan islam menyebutkan, akhlak adalah bagian dari Syariat Islam. Dan menerapkan syariat Islam harus secara kaafah (totalitas) (Qs. al-Baqarah 2:208), baik akhlak Islami, menggunakan hukum islam, memakai ekonomi Islam dan menerapkan seluruh aturan-aturan islam dalam aspek-aspek kehidupan.
Dalam kitab tersebut juga menyebutkan bahwa dalam buku-buku fiqih yang mencakup hukum-hukum syara’ tidak temukan satu bab khusus dengan sebutan akhlak. Para fuqaha dan mujtahidin tidak menitik beratkan pembahasan dan pengambilan hukum dalam perkara akhlak. Menarik bila kita mencermati ‘myelin’ sebagai solusi untuk mengatasi masalah hukum kita. Membaca tulisan Jusman berkenaan tentang myelin, sama seperti apa yang didapatkan penulis dalam buku pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyyah yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia.
Namun tidak cukup hanya dengan proses pembiasaan atau latihan-latihan intensif saja untuk membentuk karakter seorang muslim. Apalagi dengan zaman dalam rong-rongan sekulerisme seperti saat ini. Bisa jadi myelin terbentuk atas sesuatu yang malah diharamkan dalam Islam. Misalnya Indonesia terbiasa melaksanakan hukum-hukum selain islam, pasti akan terbentuk budaya hidup masyarakat dengan hukum-hukum kufur tersebut. Ini artinya tidak cukup hanya dengan pembentukan akhlah yang baik saja.
Tetapi memahamkan umat manusia khususnya umat Islam bahwa hukum Islam adalah hukum terbaik yang dapat mengatasi segala masalah peradilan di Indonesia, tak terkecuali masalah korupsi. Karena akhlak adalah bagian dari Syariat islam, maka cukup dengan terus mengkampanyekan Syariat islam kepada umat. Dengan melakukan penyadaran terus menerus akan pentingnya penegakkan Syariat Islam, Insya Allah akan terbentuk opini umum atas hal tersebut.
Norman Fairclough seorang pendiri kajian critical discourse analysis (CDA) dalam blommaert 2005 menganggap fungsi tertinggi wacana sebagai bagian dari praktik social. Praktik social yang kemudian menghasilkan perubahan asumsi, persepsi dan akhirnya perubahan social dapat dilakukan dengan menawarkan wacana baru untuk menandingi wacana yang sudah mapan sebelumnya. Wacana baru itu adalah Syariat islam.
Walaupun merupakan sebuah konsep yang lama, tetapi seruan dan usaha untuk menegakkannya seperti terasa baru. Mungkin karena umat saat ini telah jauh dari Islam dan sangat erat ‘berpelukan’ dengan wacana yang lagi mapan saat ini, sekulerisme. Syariat Islam juga tidak bisa diterapkan hanya pada individu atau kelompok saja. Karena cakupan syariat islam juga menembus ranah-ranah politik, baik hukum, sosial, ekonomi dan aspek-aspek lainnya.
Sudah barang tentu mesti ada Negara yang menerapkan. Khilafah Islamiyyah-lah Negara yang dimaksud. Jadi solusi masalah korupsi dan hukum di Indonesia, hanya bisa diatasi dengan perubahan yang sifatnya sistemik. Yakni mengganti sistem perundang-undangan sekuler dan sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan saat ini dengan SYARIAT ISLAM dalam naungan KHILAFAH ISLAMIYYAH.
[Muhammad Rahmani, Sekjen Gerakan Mahasiswa ‘Gema’ Pembebasan Sul-Sel.]

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: