IPTEK ERA KHILAFAH

21 07 2011

IPTEK ERA KHILAFAH: MEMBANGUN NALAR ILMIAH & PERADABAN DUNIA
IPTEK merupakan salah satu kunci keunggulan suatu bangsa. Namun, lebih urgen lagi jika suatu bangsa mempunyai motivasi untuk menguasai IPTEK. Sayang jika suatu bangsa tidak peduli dan tidak mempunyai motivasi untuk IPTEK. Selama motivasi ini ada, bangsa tak kan pernah kenal lelah untuk mempelajari dan mengembangkan IPTEK serta menyiapkan segala infrastruktur yang diperlukan. Bangsa tidak hanya mengejar ketinggalan tapi akan bisa mempertahankan keunggulan yang mereka raih.
Motivasi dalam IPTEK paling rendah adalah paksaan atau rangsangan ekonomi; karena mudah hilang dan tidak berkesinambungan. Beda dengan motivasi tinggi, yaitu keyakinan bahwa itu benar dan harus dilakukan; karena akan hidup terus-menerus dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Motivasi inilah yang dimiliki oleh para Nabi dan juga diwarisi umat Islam di masa lalu sehingga bisa mengangkat bangsa yang ummi (buta huruf) menjadi bangsa yang meningglkan jejak luar biasa pada dunia IPTEK.
Aspek Normatif
Ayat yang turun pertama adalah ayat tentang perintah membaca (QS. al-‘Alaq [96]: 1-5). Selanjutnya Allah memerintahkan menggunakan akal, menyebut kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang melihat alam, berpikir, memahami dan mempertebal keimanannya, Sains terkait langsung dengan iman (QS. Yunus [10]: 100; Fathir [35]: 28; Yunus [10]: 101). Kemudian Allah memerintahkan kita untuk menundukkan alam sesuai sunnatullah maka muncullah teknologi (QS. al-Jatsiyah [45]: 13).
Banyak contoh yang diberikan Nabi dan lalu diteruskan oleh para salafusshalih yang menjadikan umat Islam dalam waktu singkat bisa mengungguli IPTEK yang tidak pernah dikuasai oleh bangsa manapun sebelumnya. Buktinya Islam unggul dalam IPTEK yaitu:
1.Pembentukan penalaran ilmiah
Islam tidak menerima pendapat tanpa argumentasi rasional, siapapun yang megucapkan (QS. An-Naml [27]: 64). Islam tidak mengakui sangkaan (zhann) untuk hal-hal yang perlu keyakinan penuh dan ilmu yang akurat (QS. An-Najm [53]:28). Islam menolak subyektivitas emosi karena apapun kesimpulannya, ia berinterkasi pada hukum alam (QS. Shad [38]: 26). Islam mengikis patuh buta (taklid), baik itu kepada nenek moyang, pemimpin, apalagi pada orang awam (QS. Al-Baqarah [2]: 170). Islam mementingkan pengamatan empiris terhadap langit dan bumi dan segala isinya (QS. Adz-Dzariyat [51]: 20-21).

2.Pengakuan metode eksperimental
Pada kasus pencakokkan kurma yang ternyata gagal, Rasulullah saw bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Baginda telah mengatakan begini dan begitu”. Rasulullah bersabda, “Kalian lebih tahu urusan teknik dunia kalian.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain, Rasul saw, bersabda, “Ucapanku dulu hanyalah dugaanku. Jika berguna, lakukanlah. Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Dugaan bisa benar bisa salah. Namun, apa yang kukatakan kepada kamu dengan Allah berfirman, maka aku tak akan pernah berdusta terhadap Allah.” (HR. Ahmad).

3.Memetik segala yang bermanfaat
Rasulullah saw. bersabda, “ilmu itu bagai binatang ternak sesat orang Mukmin. Di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya.” (HR. At-Tirmizi dan Ibnu Majah).
Atas dasar ini, maka umat Islam tidak perlu merasa risih belajar ilmu-ilmu yang tidak terwarnai pandangan hidup pemiliknya. Seperti, mate-matika, fisika, kedokteran, ilmu militer hingga administrasi.

4.Memberantas tahayul dan khurafat
Saat terjadi gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya Ibrahim putra Nabi saw., sebagian muslim menghubungkan hal itu sebagai tanda kebenaran Nabi saw. sehingga “matahari pun turut berduka”. Namun, Nabi saw. bersabda, “Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.” (HR. Muslim).

Implikasi Kebijakan
Semua amalan itu ada ilmunya. Amalan yang fardhu ‘ain, ilmunya juga fardhu ‘ain; adalah amalan yang sehari-hari harus dikerjakan oleh setiap orang, baik untuk diri sendiri, berhubungan kepada Allah, maupun dengan sesama manusia. Amalan yang fardhu kifayah, ilmunya pun fardhu kifayah.
Hidup dalam dakwah. Dengan itu, dalam belajar seorang Muslim akan menyerap ilmu secara maksimal sebab nanti ia harus mampu meneruskannya ke orang lain; dalam bekerja harus mencapai prestasi terbaik sebab nanti ia harus bisa menjadi contoh bagi yang lain.
Negara Islam menyiapkan infrastruktur yang mendukung. Dukungan Negara bisa dimulai dari menjamin kebebasan akademis, pemerataan akses ilmu (pendirian sekolah, perpustakaan, observatorium, laboratorium) hingga implementasinya, Kestabilan politik serta jumlah “penjaga gawang keadilan” yang memadai juga membebaskan para ilmuwan IPTEK untuk berkonsentrasi pada riset IPTEK-nya, tanpa harus selalu diputus untuk amar makruf nahi mungkar.
Bukti Historis
Prestasi umat Islam dalam sains dan teknologi sangat banyak dan berjalan konsisten selama hampir 1200 tahun. Memang, ada masa-masa ketika ilmu-ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan astronomi lebih berkembang, yaitu pada awal era Abbasiyah. Kemudian ada pada masa saat teknologi seperti kedokteran, geografi, pertanian, permesinan, arsitektur bahkan teknik senjata lebih berkembang, seperti pada era Utsmani. Hal ini diakui oelh banyak sejahrawan Barat.
John J. O’connor dan Edmund F. Robertson (1999) menulis dalam MacTutor History of Mathematics Archive yang artinya:
“Penelitian terkini memberikan gambaran yang baru pada hutang yang telah diberikan matematika Islam pada kita. Dapat dipastikan bahwa banyak ide yang sebelumnya kita anggap merupakan konsep-konsep brilian matematikawan Eropa pada abad 15, 17, dan 18 ternyata telah dikembangkan oleh matematikawan Arab / Islam kira-kira empat abad lebih awal”.
Will Durant juga menulis dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith yang artinya:
“Kimia adalah ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh kaum muslim. Saat dalam bidang ini orang-orang Yunani tidak memiliki pangalaman industri dan hanya memberikan hipotesis yang meragukan, para ilmuwan muslim mengantarkan pada pengamatan teliti, eksperimen terkontrol dan catatan yang hati-hati. Mereka menemukan dan memberi nama alembic (al-anbiq), menganalisis substansi yang tak terhitung banyaknya, membedakan alkali dan asam, mempelajari kemiripannya, mempelajari dan memproduksi ratusan jenis obat. Alkimia yang diwarisi kaum muslim dari Mesir menyumbangkan untuk kimia ribuan penemuan insedental, dari metodenya yang paling ilmiah dari seluruh kegiatan pada zaman pertengahan.
Phillip K. Hitti pun menulis dalam History of the Arabs tentang Abbas ibn Firnas (abad 10 M) yang melakukan eksperimen alat terbang di Cordoba.
Donald R Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History (Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar yang lumayan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; dari industri mesin, bahan bangunan, pesenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi.
Kata-kata Arab pun terwarisi dalam istila-istilah astronomi, alat-alat bedah hingga barang-barang yang ada di dapur.
Wallahu’alam…
By: Mujahiddah Balangan, Rahmi S
*Diambil dari al-Wa’ie oleh Prof. Dr. –Ing. Fahmi Amhar.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: