Pemulung Vs Wakil Rakyat

11 05 2011

Kalau sampeyan tiba-tiba ditabrak pertanyaan, “Mana yang lebih penting antara pemulung dan wakil rakyat?” pasti sampeyan jawab, “Ya wakil rakyat lah!”.Secara wakil rakyat itu wakilnya rakyat. Dulu tugasnya ada lima: datang, dengar, duduk, dengkur, duit. Tapi jaman reformasi kan sudah tiba, tugas beliau-beliau ini sekarang kedengaran lebih berwibawa: pengawasan, legislasi, penganggaran. Jawaban Anda itu normal karena Anda juga orang normal. Tapi karena saya ini sangat tidak bisa digolongkan ke dalam kaum Anda, ya saya jawab, “Wooo…ya pentingan pemulung! Jauh lah!”
Tugas pemulung adalah membersihkan kota dan lingkungan Anda. Ya jangan langsung di-skak, “Apanya! Mereka itu kadang juga maling, makanya di beberapa kampung ada tulisan Pemulung Dilarang Masuk!” Ah, yang mencuri kan ya pemulung tipikal maling. Dan tak semua pemulung memiliki kemampuan dan kemauan mencuri. Jadi Anda jangan pukul rata.
Bahkan kalau saya tega, saya bisa menyerang balik Anda, “Pemulung mencuri itu bukan buat memperkaya diri. Paling-paling juga buat makan atau bayar apalah. Kalau mereka kaya, sudah pasti mereka takkan memulung. Kalau pemulung sampai mencuri, yang salah bukan mereka, tapi sampeyan semua,” Lho, kok can, kok bisa? “Ya bisa! Anda sebagai orang yang berada, mana mau sih menoleh sedikit pada mereka, mempertanyakan apa saja yang jadi kesusahannya. Anda bakal care bangetpada mereka kalau mereka terpaksa nyuri kabel antena Anda, itupun kabel butut peninggalan jaman pra-sejarah…”
Dosen saya pernah kuliah di luar negeri. Beliau pernah cerita bahwa pemulung di Amrik sana itu ganteng-ganteng, keren-keren, bersih-bersih, dan ibu-ibu kadang minta foto dengan mereka. Jadi kalau sampeyan dapat rezeki bisa holiday kesana, Anda jangan kaget kalau lihat Tom Cruise keluar kompleks sambil bawa karung-karung sampah, Brad Pitt lagi mengaduk-aduk isi tong sampah, lalu mengopernya pada John Travolta yang tinggal melemparnya ke kendaraan pengangkut sampah, yang dikemudikan Jean Claude Van Damme…
Artinya apa? Orang Barat sana sangat menghargai profesi pemulung, sebab tak semua orang mau berkotor-kotor ria dengan semesta sampah setiap hari. Pemulung disana hidup layak dan amat laik untuk menyaru sebagai foto model majalah. Pemulung Indonesia juga. Mereka langganan jadi foto model koran, majalah, tabloid, jurnal, dan portal dengan headline besar diatas fotonya: “Potret Kemiskinan Bangsa”, “Korban Pembangunan dan Globalisasi”, atau “Derita Tiada Akhir…”
Wakil rakyat OK, andai mereka mau mogok setahun penuh-pun sebenarnya ndak apa-apa. Tapi pemulung jangan sampai mogok seharipun. “Bodoh kau! Kalau wakil rakyat mogok, bagaimana dengan legislasi kita, heh? Siapa yang mau bikin undang-undang dan peraturan untuk negara, heh? Apa bapakmu?”
Inilah jawaban saya, “Bung, wakil rakyat ndak mogok saja legislasi nggak jalan. Mereka dibayar gede dan difasilitasi mewah cuma untuk menyetempeli Undang-Undang dan peraturan, itupun nggak becus. Tak pernah ada sejarahnya dalam reformasi, target legislasi sekian, lalu bisa diselesaikan semua. Jadi, mereka mogok nggak mogok, dunia legislasi kita takkan terganggu, akan sama saja.”
“Kalau pemulung sampai nggak mau memulung lagi lantaran tak ada peluang karir yang jelas dalam dunia kepemulungan, wah, bisa menggila sampah-sampah kita. Kasihan Pasukan Kuningnya nanti, ndak ada tenaga bantuan. Bisa-bisa sampeyan nanti yang dipaksa pemerintah buat memulungi sampah plastik, istri Anda bagian sampah kresek, dan anak Anda bertanggungjawab pada sampah kertas dan koran di jalan-jalan. Makanya, kalau sampai detik ini kita masih menganggap remeh para pemulung, persiapkan diri Anda semua untuk mengcover tugas-tugas mereka nanti…” Oi!

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: