Laporan Studi Banding DPR dari Swedia Cuma Selembar

10 05 2011

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Ade Irawan dari 143 kali kunjungan ke luar negeri yang dilakukan oleh DPR banyak yang tak efektif.

“Bahkan kami mempertanyakan pula dimana letak urgensi serta kemampuan studi banding selama ini sebagai alat bantu mendapatkan data dan informasi,” kata Ade Irawan melalui rilisnya kepada tribunnews.com, Minggu (8/5/2011) seraya mengatakan dari 143 kali kunjungan ke luar negeri tersebut, hanya tiga laporan yang dipublikasikan oleh (hanya) satu alat kelengkapan, yaitu Komisi III.

Menurutnya, dilihat dari isi laporan, terdapat perbedaan dari segi format, muatan, dan bobot informasi yang disajikan. Bahkan untuk studi banding yang ke Swedia, hanya tersedia satu lembar laporan, yang tidak lebih dari sekadar deskripsi singkat kegiatan dan jadwal.

Kondisi yang serupa dapat ditemukan juga pada laporan studi banding Panja Rancangan Undang-Undang (RUU) Hortikultura ke Belanda yang hanya terdiri atas 2 (dua) halaman. Yang pasti, keduanya juga tidak menjelaskan secara rinci bagaimana kaitan antara temuan dan hasil telaah selama studi banding dengan capaian terakhir substansi RUU.

“Laporan studi banding (i) BURT ke Maroko, Jerman, dan Perancis atau studi banding (ii) Panja RUU Kepramukaan ke Korea Selatan, Jepang, dan Afrika Selatan, atau studi banding (iii) Badan Kehormatan (BK) ke Yunani adalah contoh laporan yang hingga saat ini belum dipublikasikan secara resmi melalui situs http://www.dpr.go.id. Bahkan sangat disayangkan, situs http://www.dpr.go.idtidak menyediakan fitur tersendiri yang menempatkan laporan kunjungan keluar negeri yang dilakukan BURT dan BK. Padahal harus diakui, laporan tersebut sebenarnya sudah tersedia, setidaknya dari apa yang diberikan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) DPR kepada ICW,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh peneliti Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK), Ronald Rofiandri. Ia menilai agenda studi banding yang dilakukan DPR adalah tindakan yang sia-sia karena dianggap gagal. Oleh karenanya, pihaknya mendorong moratorium kegagalan studi banding. Atau dengan kata lain mengurangi secara signifikan resiko ketidakefektifitasan studi banding.

“Kami mengerahkan perbaikan yang menurut kami bukanlah hal yang mustahil, selagi imajinasi ke arah sana selalu terbangun dan DPR secara terus menerus membangun kepantasan dan mendayagunakan aset yang mereka miliki secara tepat. Badan Legislasi (Baleg) secara tidak sadar pernah melakukannya, dengan mengganti model kunjungan ke negara tujuan studi banding dengan sarana korespondensi, dalam rangka pembahasan RUU Bantuan Hukum,” tandasnya.

Bahkan, Indonesia Budget Centre (IBC) mencatat, hampir semua kegiatan studi banding yang selama ini berjalan, khususnya terkait RUU yang diusulkan oleh DPR, dilakukan mendekati babak akhir pembahasan, bukan saat penyusunan naskah akademik dan perancangan awal naskah RUU.

Selain terkait anggaran transportasi atau akomodasi, IBC juga menaruh perhatian terhadap alokasi anggaran publikasi atas laporan pelaksanaan dan pertanggungjawaban kegiatan studi banding (bisa dipelajari dari tabel Anggaran Kepustakaan dan Sistem Informasi DPR).

“Kami mendesak agar aspek perencanaan dan pertanggungjawaban menjadi agenda prioritas, bukan sekedar memangkas anggaran studi banding. Seluruh ketentuan Pasal 143 Peraturan DPR RI No 1 Tahun 2009 tentang Tata Tertib DPR tidak mengatur dan memerintahkan penyusunan dan publikasi laporan hasil studi banding. Akibatnya prinsip akuntabilitas jadi terabaikan,” kata anggota IBC< Roy Salam.

"Pernyataan kami hari ini merupakan sinyal bahwa kami siap untuk berinteraksi dengan pimpinan DPR, BURT, dan Setjen DPR guna menjajaki berbagai kemungkinan perbaikan, terutama mengefektifkan penggunaan Term of Reference (ToR) sebagai media perencanaan dan Field Report (FR) untuk aspek pertanggungjawaban kegiatan studi banding," imbuhnya.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: