Menyoal Sikap Moderat

3 05 2011

Oleh Yahya ‘Abdurrahman

Kesadaran akan kondisi umat yang terpuruk mulai menjalar di tengah-tengah umat. Kesadaran tersebut mendorong umat untuk berupaya mengubah keterpurukan tersebut dan mengembalikan kejayaan Islam yang telah hilang. Umat mulai menyadari bahwa mengembalikan kejayaan Islam mesti diwujudkan melalui institusi yang menerapkan sistem Islam di tengah-tengah mereka sebagai ideologi yang mengatur segala aspek kehidupan. Kesadaran demikian memunculkan kekhawatiran bagi Barat karena akan menjadi ancaman yang suatu saat sanggup menggulung ideologi kapitalis yang mereka emban sekaligus menghilangkan dominasi mereka. Barat paham betul, ketika Islam diterapkan sebagai ideologi yang mengatur segenap aspek kehidupan, kehancuran mereka tinggal masalah waktu saja. Karena itu, Barat berupaya mematikan benih kesadaran umat tersebut. Barat juga paham, upaya mematikan kesadaran umat tersebut tidak boleh lagi dilakukan secara frontal dengan menyerang langsung kaum Muslim. Sebab, hal itu justru akan mengobarkan semangat umat dan mendorong perlawanan terhadap Barat. Mereka juga paham bahwa umat Islam tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari agamanya. Umat sulit dikeluarkan (dimurtadkan) dari Islam sekalipun hal ini menjadi target tertinggi mereka.
Karena itu, mereka berupaya menyelewengkan ajaran Islam yang murni. Islam jangan sampai diterapkan sebagai sebuah sistem formal. Semangat formalisasi Islam harus disisihkan dari pemahaman umat. Karena umat tidak bisa dipisahkan dari islamnya, maka pemikiran mereka harus diubah. Salah satunya adalah dengan cara menamamkan gagasan modersime atau jalan tengah. Dengan cara ini, formalisasi Islam dipandang tidak diperlukan. Islam cukup diambil substansinya saja. Pemikiran moderat dan jalan tengah ini ditanamkan kepada umat Islam dengan memanipulasi bahwa prinsip moderat merupakan substansi dari ajaran Islam bahkan menjadi sifat utama ajaran Islam. Mereka memanipulasi pengertian wasathiyah (moderisme/jalan tengah) sebagai sifat umat Islam. Padahal, istilah wasathiyah dengan pengertian seperti ini merupakan istilah baru—yang notabene bersumber dari Barat yang kapitalistik—yang didesakkan kepada kaum Muslim. Gagasan moderisme atau jalan tengah inilah yang melahirkan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang kemudian menjadi landasan ideologi Barat, yakni Kapitalisme.
Sekularisme merupakan hasil kompromi kaum gerejawan dan para raja vis a vis para pemikir dan filosof yang bertahun-tahun terlibat konflik. Konflik tersebut dipicu oleh keyakinan kaum gerejawan dan para raja bahwa agama Nasrani layak untuk memecahkan seluruh permasalahan manusia. Sebaliknya, para pemikir dan filosof mengingkarinya. Merek bahkan memandang bahwa agama Nasrani justru telah mengakibatkan kezaliman dan kemunduran. Konflik tersebut terus berlangsung sampai kemudian dihasilkan sebuah kompromi atau jalan tengah, yakni agama Nasrani tetapi diakui eksistensinya, tetapi tidak otoritas (kewenangan)-nya dalam mengatur kehidupan manusia. Pengaturan kehidupan manusia cukup diserahkan otoritasnya pada akal manusia tanpa perlu campur tangan agama. Dari sini, lahirlah akidah sekularisme yang menjadi ide dasar dari ideologi Kapitalisme.
Jalan tengah (kompromi) itu selanjutnya berpengaruh pada diri mereka dalam setiap penentuan peraturan/undang-undang dan bahkan perilaku mereka. Mereka menyandarkan semuanya pada suara mayoritas dalam mengambil atau menentukan hukum dan perundang-undangan tanpa memandang kelayakan dan kebenaran pendapat minoritas ataupun pendapat mayoritas. Mereka juga membangun perilaku politik dengan jalan tengah/kompromi tanpa memandang kebenaran jalan tengah atau kompromi itu ketika berhadapan dengan permasalahan politik. Dalam konteks kasus Palestina, misalnya, kaum Muslim Arab menuntut bahwa semua tanah Palestina merupakan tanah mereka. Sebaliknya, pada saat yang sama, orang Yahudi juga mengklaim bahwa Palestina merupakan tanah yang dijanjikan oleh Allah kepada mereka. Akhirnya, Negara-negara Barat kapitalis bersepakat pada tahun 1948 untuk membagi Palestina menjadi dua bagian, satu bagian untuk kaum Muslim Arab dan sebagian yang lain untuk Yahudi. Kompromi atau jalan tengah itu juga tampak dalam banyak permasalahan seperti permasalahan Ciprus, Sudan, Kasmir, Bosnia, dan lainnya. Padahal, pada faktanya sikap demikian merupakan sikap politik yang bersandar pada kebohongan dan tipudaya, bukan untuk mencapai kebenaran sejati. Sikap moderat/jalan tengah juga tampak menonjol dalam berbagai perundingan yang mereka lakukan; tujuannya semata-mata untuk menghasilkan kompromi, bukan demi mewujudkan kebenaran.

Sikap kaum Muslim
Meskipun ide moderisme ini sangat asing dan berbahaya, banyak kaum Muslim yang justru mengambilnya. Mereka bahkan menyerukan bahwa pemikiran itu ada dalam Islam. Sebab, Islam mengenal antara aspek spiritualitas (ruhiyah) dan materi (madiyah); antara fardiyah dan jamaah; antara realisme (waqi‘iyyah) dan ideoalisme (mitsâliyyah); antara konservativisme dan dinamika; tidak kikir tetapi juga tidak royal; dll.
Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu terdiri dari dua kutub dan pertengahan. Pertengahan merupakan titik aman, sementara kutub menghantarkan pada bahaya dan kerusakan. Pertengahan merupakan pusat kekuatan serta titik keadilan dan keseimbangan antara dua kutub. Ketentuan ini senantiasa berlaku, tak terkecuali bagi Islam. Islam adalah pertengahan dalam keyakinan dan peribadahan, dalam perundang-undangan dan akhlak, dsb. Mereka bahkan menganggap moderatisme dan jalan tengah ini menjadi substansi dari ajaran Islam. Mereka memahami secara keliru firman Allah Swt. :
]وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا[
Demikianlah, kami telah menjadikan kalian sebagai umatan wasathan agar kalian menjadi saksi untuk seluruh manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian. (QS al-Baqarah [2]: 143).

Mereka mengatakan bahwa sesunguhnya pertengahan umat Islam disandarkan kepada pertengahan manhaj dan peraturan islam. Di dalamnya tidak terdapat sikap berlebih-lebihan sebagaimana Yahudi dan tidak terdapat sikap menganggap enteng sebagaimana Nashrani. Mereka juga menganggap bahwa kata al-wasthu artinya adalah adil, sementara—menurut anggapan mereka—adalah pertengahan antara dua kutub yang saling berjauhan. Mereka juga memaknai asil sebagai damai. Demikian substansi ide moderisme yang sesungguhnya diambil dari Barat yang kemudian disematkan juga pada Islam.
Padahal, ayat tersebut mankanya adalah bahwa umat Islam merupakan umat yang adil, sementara sifat adil merupakan syarat bagi saksi dalam Islam. Artinya, umat Islam merupakan saksi yang adil atas umat-umat lain di seputar kenyataan bahwa risalah Islam telah sampai kepada mereka. Meskipun ayat tersebut menggunakan bentuk ikhbâr (bersifat informasi) tetapi mengandung tuntutan dari Allah Swt. kepada umat Islam untuk menyampaikan Islam kepada umat yang lain. Jika mereka tidak melakukannya, mereka berdosa:
]وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللهِ[
Siapakah yang lebih zalim dibandingkan dengan orang yang menyembunyikan syahâdah (kesaksian) dari Allah yang ada padanya? (QS al-Baqarah [2]:140).

Demikian juga pengertian kalimat agar Rasul menjadi saksi atas kalian pada akhir ayat di atas.
Di samping itu, ide moderisme juga sering disandarkan oleh mereka pada firman Allah Swt. Berikut:
]وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا[
Orang-orang yang jika berinfak tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir; di antara yang demikian itu yang lebih lurus. (QS al-Furqan [25]: 67).

Mereka memaknai bahwa infak yang lurus/benar adalah yang sedang-sedang saja, tidak israf (royal) ataupun taqtir (kikir). Sebab, menurut mereka, Allah mengharamkan isrâf (royal) maupun taqtîr (kikir). Sebaliknya, Allah menghalalkan al-qawâm yaitu berinfak pada pertengahan. Inilah argumentasi mereka yang lain bagi sebuah keyakinan—yang jelas-jelas keliru—bahwa dalam Islam terdapat jalan tengah atau moderisme.
Padahal, makna sebenarnya dari ayat tersebut adalah, bahwa infak itu ada tiga macam yaitu: isrâf (berlebih-lebihan), taqtîr (kikir), dan al-qawâm (yang lurus). Al-Qawâm yang dimaksud adalah berinfak (membelanjakan harta) sesuai dengan hukum-hukum Islam, baik banyak ataupun sedikit; isrâf adalah membelanjakan harta di jalan yang haram, baik banyak ataupun sedikit; dan taqtîr (kikir) adalah mencegah diri atau tidak mau berinfak untuk sesuatu yang wajib, baik sedikit maupun banyak seperti enggan menunaikan zakat mal atau mengeluarkan harta untuk orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Walhasil, frasa di antara yang demikian itu bermakna al-qawâm (yang lurus), tidak menunjukkan pertengahan sesuai urutan kedudukan. Intinya, kaum Muslim hanya diperintahkan untuk membelanjakan hartta di jalan yang halal, baik sedikit ataupun banyak. Sebab, Allah Swt. berfirman dengan menggunakan frasa bayna dzâlik (di antara yang demikian) dan tidak menggunakan frasa bayna dzâlikumâ (di antara keduanya).

Posisi Prinsip Moderat/Jalan Tengah
Sebagaimana dipahami, Allah Swt. Adalah Pencipta manusia yang karenanya pasti mengetahui hakikat manusia yang sebenarnya dibandingkan dengan manusia itu sendiri. Karena itu, pasti hanya Allah yang mampu mengatur kehidupan dengan pengaturan yang benar. Allah sendiri telah memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh semata pada syariat-Nya. Allah Swt. berfirman:
]وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا[
Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah-belah. (QS Ali ‘Imran [3]: 103).

Kita haram mengambil pemikiran, sistem, dan aturan dari luar Islam, sebagaimana firman-Nya:
]وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ[
Siapa saja yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya sedikit pun. (QS Ali ‘Imran [3]: 80).

Kita juga diperintahkan untuk memutuskan segala sesuatu berdasarkan syariat Islam. Allah Swt. berfirman:
]وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ[
Putuskanlah perkara di antara mereka berdasarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. (QS al-Maidah [5]: 49).

Dengan demikian, dalam memutuskan segala sesuatu kita harus memperhatikan syariat semata. Nilai-nilai dan standar-standar lain tidak masuk dalam perhitungan. Apakah keputusan itu merupakan jalan tengah/kompromi ataukah tidak, tidak perlu diperhatikan. Yang harus diperhatikan adalah batasan-batasan yang diberikan oleh Allah. Sebab, jika kita melanggar batasan-batasan Allah, berarti kita telah bermaksiat kepada-Nya dan akan mendapat azab neraka. Allah Swt. berfirman:
]وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ[
Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan melanggar hudûd-Nya, ia akan masuk neraka dan kekal di dalamnya serta mendapatkan siksaan yang menghinakan. (QS an-Nisa [4]: 14).

Dengan demikian, jelas bahwa moderisme atau pemikiran jalan tengah tidak boleh dijadikan sebagai patokan. Rasulullah saw., dalam semua perkataan dan perbuatan ataupun persetujuan beliau, tidak menampakkan sama sekali prinsip moderisme atau jalan tengah. Beliau hanya berpegang teguh pada syariat yang diturunkan Allah; betapapun mungkin dianggap ekstrem. Kita mengetahui bagaimana Rasulullah menolak tawaran berbau kompromistik yang diberikan oleh Quraisy melalui paman Beliau, Abu Thalib; bagaimana beliau juga menolak tawaran kompromi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dengan ucapannya yang tekenal, “Sesungguhnya kekuasaan itu adalah milik Allah dan Dia pasti akan memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.” Begitu pula sikap beliau dalam perjanjian Hudaibiyah yang sekilas bagi sebagian orang tampak sebagai jalan kompromi atau sikap moderat Rasul kepada Quraisy. Padahal, sesungguhnya hal itu beliau lakukan sesuai dengan wahyu dan sesuai dengan strategi beliau diatas tuntunan wahyu untuk mendakwahkan risalah Islam kepada umat lain. Prinsip inilah yang dipegang oleh Rasul dalam setiap hubungan luar negeri.
Dalam hal memilih pendapat kita juga tidak boleh mendasarkan pada prinsip moderasi atau jalan tengah tetapi pada pendapat mana yang paling ahsan (paling kuat). Allah Swt. berfirman:
]الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الأَلْبَابِ[
Orang-orang yang mendengar suatu perkataan (pendapat) maka mereka mengikuti yang paling baik. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka adalah orang yang berakal. (QS az-Zumar [39]: 1).

Al-Fîruz Abadi dalam Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs, halaman 387, menyatakan bahwa frasa ahsanahu maknanya adalah ahkâmuhu wa abyânuhu (yang paling kuat dan paling jelas), yakni yang paling kuat dalilnya dan paling jelas pemahamannya.
Dengan demikian, prinsip moderat/jalan tengah bukanlah berasal dari pemikiran Islam, tetapi dari pemikiran Barat yang sengaja dijejalkan kepada kaum Muslim untuk menyelewengkan merkea dari agama Islam yang lurus. Karena itu, kita harus membuangnya jauh-jauh. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh pada syariat Islam semata. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: