BAGI KAUM HAWA, YUUKK HIDUP SEJAHTERA DI BAWAH NAUNGAN KHILAFAH !

3 05 2011

elah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Ruum : 41)

Pasti ngerti dong ayat di atas ini? Yeah, ayat ini terkenal banget pas jaman-jaman saya SMA dulu. Menurut tafsirnya Muhammad Ali Ashabuni dalam kitab Shafwatu al-Tafasir, yang dimaksud dengan bi maa kasabat aydinnaas dalam ayat itu adalah “oleh karena kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan manusia (bi sababi ma’ashi al-anaas wa dzunu bihim)”. So, definisi maksiat adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah, yaitu nglakuin apa yang dilarang n’ ninggalin apa aja yang diwajibin sama Allah.

Kerusakan itu udah sangat-sangat nyata banget. Gak sulit rasanya bagi kita untuk menyaksikan berbagai penyimpangan perilaku manusia dari aturan yang telah diturunkan Allah SWT. Bahkan, tak jauh dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang bisa kita saksikan sehari-hari. semua hal ini sudah memenuhi kriteria kerusakan yang besar (fasad khabiiir). Namun, ada kenyataan yang musti kita renungin. Begitu gampangnya kita merasakan dan mengakui bahwa semua ini adalah kerusakan yang nyata teramat parah sebagaimana Allah SWT gambarkan dalam ayat diatas.

Sulitnya merasakan kerusakan besar ini, boleh jadi karena penyimpangan tersebut kerapkali terjadi sehingga menjadi sesuatu yang lumrah alias ajeg-ajeg wae. Ini akibat dari tidak segeranya penyimpangan tersebut mendapat penyelesaian yang tuntas. Padahal kerusakan demi kerusakan sejatinya menjadi pembelajaran agar manusia kembali ke jalan yang lurus. Jadi benar dong kalo Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 124 yang artinya:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan akan menghimpukannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Gimana ga sempit n sesek ni dada kalo kita breakdown satu persatu penyimpangan itu. Islam memerintahkan agar perempuan menutup aurat dan laki-laki menjaga pandangan. Coba liat saat aturan ini ga dijalankan. Perempuan menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan bahkan disertai pembunuhan karena aurat yang mereka umbar telah menarik mata laki-laki yang jalang. Ga sedikit pula rumah tangga menjadi retak bahkan berujung perceraian karena perselingkuhan masing-masing di luar rumah. Pergaulan bebas yang merebak telah mengorbakan masa depan generasi muda. Mereka hamil di luar nikah, menanggung aib plus aborsi pula. Tak sedikit dari mereka yang berujung pada kematian di ruang aborsi. Lengkaplah sudah penderitaan mereka di dunia. Coba sekarang ente-ente pada rasain, sesek ga dada kalian? Asma kali yeee.. Hehehe..

Belum lagi pengaruh media massa yang merangsang naluri seks hingga masuk di tengah jantung keluarga kita (soalnya biasanya televisi ditaro’ di ruang keluarga, tempat keluarga berkumpul, hehehe). Tak jarang justru penyimpangan seks terjadi didalam lingkup keluarga. Ayah menggauli anak tirinya, bahkan ada yang menggauli anak kandungnya. Kakak menggauli adiknya, pembantu diperkosa majikan, majikan berselingkuh dengan pembantu, dan sebaliknya. Nah loo !! Ini baru dari satu aspek aturan pergaulan lawan jenis yang dilanggar bruur. Itu aja udah memberi kerusakan yang luar biasa.

Belum lagi bila kita perhatiin dampak dari tidak diterapkannya hukum ekonomi islam. Kemiskinan yang diakibatkan oleh distribusi yang ga merata, membuat sempit kehidupan masyarakat. Sistem ekonomi kapitalis yang tengah dianut umat saat ini membawa kerusakan tatanan kehidupan yang teramat luas. Sebut aja deh gimana suami istri harus bertengkar tiap hari karena masalah kekurangan pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan terpaksa ibu menjual bayinya, ayah menjual anak gadisnya di tempat pelacuran. Ibu dengan berkorban perasaan meninggalkan keluarga yang dicintainya karena harus bekerja di luar negeri. Siapa yang menjadi korban? Ya tentu anak-anak mereka duoong. Tak hanya itu, karena lilitan hutang yang tak kunjung lunas, banyak orang mengakhiri hidup dengan gantung diri, meminum racun, membunuh anaknya dan sebagainya. Naudzubillahi..

Dan karena kemiskinan pula, banyak anak ga punya kesempatan untuk nglanjutin sekolah. Kecukupan gizi mereka tidak terpenuhi. Dengan terpaksa anak-anak pun membantu mencari penghidupan. Dan mereka rentan menjadi korban kejahatan di jalanan. Mereka menjadi santapan bisnis perdagangan anak, eksploitasi tenaga kerja, dan sejenisnya. Karena kemiskinan juga, tidak sedikit orang menjadi jahat, angka kriminal terus meningkat. Sempit lagi kan dadanya? Ampuunn, ngurut dada deh..

Di era sekarang, kelompok kapitalis yang haus materi tengah berjaya. Mereka ngluarin aturan yang senafas dengan kepentingan ideology mereka. Itulah mengapa perempuan dan anak tak luput menjadi obyek eksploitasi. Perempuan yang sejatinya menjalankan peran utama untuk pendidikan generasi, terpalingkan perhatiannya kepada pemenuhan materi sebagai wanita karir. Ironisnya, mereka menjadi bangga seolah menjadi simbol kemajuan perempuan. Mereka bergembira karena bebas dari kungkungan tradisi dan agama yang sangat membatasi sepak terjang mereka. Walhasil saat ini kita menyaksikan para perempuan mengejar bayang-bayang kemajuan semu yang dijalankan kapitalis. Akibatnya keluarga dan generasi menjadi taruhannya.

Para perempuan yang sudah terjebak pada jeratan pemikiran dan aturan kapitalis-liberal inilah yang harus diselamatkan. Mutlak harus segera kita selamatkan !!! Cateett !!! Karena posisi mereka yang menjadi pilar peradaban manusia harus terjaga dengan baik. Upaya penyadaran harus dilakukan intensif dengan cara menunjukkan keburukan-keburukan aturan sekuler. Mengapa perlu kita tunjukkan? Karena ternyata ada tawaran busuk yang dikemas manis, sehingga tidak mudah bagi orang melihat kebusukannya secara langsung. Perlu pemikiran untuk menunjukkan kebusukannya tersebut.

Setelah kita mengungkap keburukan aturan sekuler, tugas kita selanjutnya adalah menggambarkan kebaikan dan keindahan hukum Islam. Gambaran bagaimana nikmatnya kehidupan perempuan, keluarga, dan masyarakat dalam naungan Islam. Perempuan tidak diwajibkan mencari nafkah tetapi mereka menerima nafkah dari suami. Ini terjadi karena negara menjamin bahwa semua kepala keluarga harus mendapat peluang yang sama untuk mencari nafkah agar bisa menafkahi anak dan istrinya. Dalam Islam, istri diperlakukan santun oleh suami, karena Islam mewajibkan suami untuk memperlakukan istri dengan ma’ruf. Para ibu dihormati dan disayangi oleh anak-anak mereka, karena Islam mewajibkan anak berlaku baik kepada orangtua mereka. Waaahh, seneengg yaa..

Tak hanya itu. Islam juga ngasi kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagaimana laki-laki. Diberi kesempatan yang sama untuk berkiprah dalam lapangan publik sesuai dengan aturan Islam. Mereka diwajibkan menutup aurat saat keluar rumah dalam rangka menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka. Mereka dilarang untuk bekerja mengeksploitasi kecantikannya semata karena Islam menempatkan perempuan sebagai perhiasan yag wajib dipelihara. Walhasil kebutuhan fisik dan naluri perempuan terpenuhi dengan baik karena penerapan hukum Islam. Dan seharusnya perempuan saat ini sangat merindukan untuk hidup dalam naungan hukum Islam. Wallahu ‘alam bi ash-showwab.

~MuSaFir~
media islam online

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: