Hari “Gagalnya” Pendidikan

2 05 2011

Wartawan senior Kompas Sindhunata,, dalam sebuah tulisannya menyimpulkan dengan berat hati bahwa pendidikan di negeri ini hanya menghasilkan air mata . Sekarang bahkan air mata itu sudah habis terkuras, hanya menyisakan ratapan dalam diam. Air mata siapa lagi kalau bukan milik kebanyakan rakyat dikarenakan ironi pendidikan; biaya yang mahal, terjadinya diskriminasi, maraknya komersialisasi, anjloknya kualitas, buruknya fasilitas, dan berbagai macam ironi lain yang tidak ada habisnya.

Lebih ironis lagi manakala buruknya pendidikan tadi ternyata bukan hanya mengakibatkan hilangnya hak dasar sebagian besar rakyat untuk mengenyam pendidikan bahkan lebih buruk lagi buruknya pendidikan mengakibatkan hilangnya banyak nyawa!. Banyak pelajar kita yang ‘terpaksa’ lompat dari jembatan, gantung diri, atau meneggak racun gara-gara tidak lulus UN. Tidak perlu data-data yang kompleks untuk membuktikan hal ini. Kondisi Pendidikan kita sekarang ini benar-benar berada pada titik nadir. Ibarat manusia sedang dalam kondisi sekarat.

Pertanyaannya adalah Mengapa bisa seperti ini?, Cuma ada satu jawaban; pendidikan kita diatur dengan aturan yang salah oleh orang-orang yang salah. Terlalu naif rasanya jika mengkambinghitamkan minimnya aggaran sebagai penyebab buruknya kualitas pendidikan kita. Bukan rahasia lagi bahwa konsep pendidikan saat ini sangat sekuleristik dan empirik. Memang pendidikan saat ini telah memberikan pengetahuan dan ilmu akan tetapi gagal dalam mempersiapkan kader-kader yang dibutuhkan oleh ummat. Menurut budayawan Emha Ainun Najib, memang benar pendidikan kita melahirkan banyak orang-orang terdidik namun sebagian besar dari mereka justru hanya menambah jumlah manusia yang tidak mengerjakan apa-apa yang sudah terlanjur diketahuinya.

Bagaimanapun juga Kita sangat memimpikan pendidikan ideal yang mana pendidikan tersebut bersifat sistematis, non komersial, holistic, dan partisipatif.

Lalu kemudian pertanyaannya adalah siapakah yang paling bertanggung jawab dalam rangka Mewujudkan pendidikan ideal tadi?, tentunya jawabannya adalah negara. Tugas utama negara adalah memelihara kesejahteraan rakyat termasuk didalamnya melayani kebutuhan rakyatnya terhadap pendidikan sampai pada level tertinggi. Karena pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara. Lebih jauh lagi bahwasanya menuntut ilmu itu adalah wajib menurut Hadits Rasulullah SAW; “menuntut Ilmu itu Wajib bagi Setiap Muslim.” Tidak ada kastanisasi dan diskriminasi. Sudah seharunya negara menyediakan pendidikan bebas biaya, memberikan gaji yang cukup kepada para guru, menyediakan fasilitas pendidikan yang lengkap dan memadai, serta mempermudah dan mempermurah penulisan dan penjualan buku. Intinya apapun yang diperlukan untuk menunjang pendidikan harus disediakan oleh negara. Itulah konsep sistem pendidikan islam.

Apabila kita menghendaki sistem pendidikan islam berlangsung kembali, maka tentunya harus ada undang-undang yang menerapkan dan menjamin pelaksanaan syariat islam secara utuh. Maka disinilah relevansi bahwa sistem pendidikan islam hanya bisa diterapkan oleh Daulah Khilafah Islam.Insyaallah# [fahrur rozi]

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: