KETIKA DAKWAH TELAH MENJADI RIVAL

24 04 2011

Tak kenal siang atau malam, tak kenal pagi atau petang, tak kenal lelah apalagi keluh kesah. Semua dijalankan dengan sepenuh jiwa. Tidak ada aktifitas yang di dalamnya terkait dengan urusan dakwah kecuali ia menerjunkan dirinya secara total untuk mengerjakannya secara rela dan sadar. Terkadang di wajahnya dan juga kawan-kawannya, terlihat jelas kepenatan itu. Tapi mereka tetap tampak cantik, karena senyum indah itu tidak pernah luntur dari wajah-wajah di balik hijab mulia mereka. Jika saja mereka tidak tulus melakoni aktifitas dakwah itu, niscaya mereka akan terlihat bersungut. Terkadang kesehatan rela dikorbankan demi terselenggaranya satu event yang telah direncanakan dengan sangat matang, lilLaahi Ta’ala tentunya. Dari rapat yang satu, beralih ke rapat yang lain. Dari urusan yang satu, pindah lagi ke urusan yang lain. Sampai-sampai waktu yang ditentukan Allah, yakni 24 jam dalam sehari seolah tidak mencukupi. Makan mi instan saja sudah dirasakan nikmat luar biasa, karena tidak sempat lagi memikirkan menu makanan apa yang tepat untuk mereka santap agar stamina tetap terjaga. Tak ada waktu untuk itu, apalagi sekedar untuk memanjakan lidah dengan makanan kegemaran. Rasa kantuk dilawan seperti halnya mereka bertarung melawan syaitan yang durjana. Karena, dalam bahasa mereka, istirahat bagi seorang pengemban dakwah itu adalah nanti saja, di Surga Firdaus. SubhaanalLaah…

Tapi semua itu dulu, ketika urusan pribadi masih baik-baik saja. Tapi semua itu dulu, ketika dakwah masih dianggap prioritas. Tapi semua itu dulu, ketika kepentingan duniawi masih belum menjadi poros hidup. Tapi semua itu dulu, ketika dakwah dan urusan sekolah/kuliah/kerjaan masih belum menjadi rival. Tapi semua itu dulu… dulu… dulu… dan dulu. Kini semuanya mulai berbeda sejak di benaknya yang bercokol tidak hanya aktifitas dakwah saja. Kini telah ada hal lain yang bahkan mulai mengambil porsi lebih besar di benaknya. Ada urusan-urusan lain yang seolah-olah tidak kalah pentingnya dengan dakwah. Pada awalnya, perang sempat berkecamuk di kepalanya. Apakah harus istiqamah dengan jalan hidupnya selama ini yakni berjibaku dengan kesibukan dakwah ataukah (juga) memberikan sedikit ruang untuk aktifitas lain. Mulailah syaitan yang durjana memasang kuda-kuda, bersiap menjeremuskan sang pengemban dakwah pada aktifitas yang sedikit demi sedikit menjauhkannya dari idealismenya yang dulu ia gigit kuat-kuat. Sedikit demi sedikit, aktifitas dakwah mulai dikurangi. Pelan tetapi pasti, hingga akhirnya dakwah tinggal menjadi ‘kerjaan’ sampingan. Jika muncul perasaan bersalah di benaknya, dengan cepat syaitan durjana akan membacakan mantra: cuma sementara saja, nanati kalau sudah selesai saya akan kembali berjuang habis-habisan untuk dakwah ini. Apalagi aktifitas ini juga akan memberikan maslahat untuk ummat. Aktifitas ini juga tidak melalaikan dari sholat dan puasa. aktifitas (sekolah/kuliah/kerjaan, dll.) ini juga tidak melanggak hukum syara’. Kesibukan ini Tidak mengapa, Masih banyak lagi pembenaran-pembenaran yang dicari-cari untuk sekedar menghibur diri sendiri dan terhindar dari perasaan bersalah yang mendalam.

Banyak orang yang ketika dakwahnya tidak berbenturan dengan kepentingan lain maka ia terlihat begitu konsisten dan bersemangat. Bahkan, ketika ia diuji oleh Allah dengan kesulitan hidup (materi) ia tetap terllihat bersabar dengan dakwahnya. Tapi ketika Allah menguji ia dengan pekerjaan yang menjanjikan materi yang lebih, kuliah yang merupakan sebuah prestise (yang sering dilabeli dengan pengabdian kepada orang tua, karena amanah mereka), atau berbenturan dengan kendala aturan administrasi sebuah institusi, atau juga problematika keluarga dan lain-lain, maka dakwahnya akan melempem. Padahal, jauh dalam alam sadarnya, ia tahu persis, kekayaan dan kemiskinan adalah tidak lebih dari sekedar ujian dari Allah Yang Maha Perkasa. Kesulitan dan kemudahan juga demikian adanya. Tapi lagi-lagi, dunia! dunia! dunia!… syaitan! Syaitan! Syaitan! Padahal,

… Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (TQS. Ali Imran: 145)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (TQS. an Nisaa’: 76)

Jika ada dari seorang kawannya yang masih istiqamah dan berbaik hati untuk memuhasabahinya, ia kembali mengikuti sihir syaitan: Ah, kalaupun ini melanggar ketentuan Allah, toh nanti ada kesempatan untuk bertobat. Jika nanti kuliah saya sudah rampung, saya akan mengenakan jilbab lagi, saya akan dakwah lagi, saya akan anu lagi… dan … begitu seterusnya. Seyakin apakah ia bahwa ia akan sampai pada masa dimana ia bisa merampungkan kuliahnya? Tentang hal ini,

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (TQS. an Nisaa’:18)

Karena itu, saya ingin menyampaikan kepada diri saya bahwa jangan sampai saya termasuk dalam barisan orang-orang yang menyesal. Yakni ketika orang-orang yang istiqamah menuai hasil dari kesabaran mereka dan saya hanya bisa menjadi penonton yang menelan kepahitan tiada tara atas kedzaliman dan penghianatan yang saya lakukan kepada Rabb yang mengalirkan jutaan galon darah dalam tubuh ini. Teringat lagi warning dari Allah Yang Maha Mulia,

Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ). (TQS. az Zumar: 56)

Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’. (TQS. az Zumar: 58)

Semoga Allah meneguhkan langkahku yang lemah ini dalam kebenaran-Nya. Amiin…

Oleh,

Che Asy Syifa

Disalin dari: http://www.facebook.com/notes/che-asy-syifa/ketika-dakwah-telah-menjadi-rival/10150154479407554

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: