Geopolitik Global dan Krisis Pangan

6 04 2011

By: Yulita Hasmi

Pemberitaan di berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik mengenai peningkatan harga cabai dipasaran cukup menjadi perhatian bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Dari berita yang sempat saya dengar, harga cabai per kilogramnya mampu bertengger pada angka 100 ribu rupiah bahkan bisa lebih dari itu, sangat fantastis memang mengingat cabai merupakan kebutuhan sehari-hari yang sangat di perlukan oleh masyarakat. Bagi halnya masyarakat ekonomi ke bawah dan juga bagi produsen/penjual makanan yang senantiasa menggunakan cabai, kenaikan ini sangat memprihatinkan mereka, tetapi tidak bagi sebagian masyarakat kelas atas. Naiknya harga cabai yang terlalu tinggi bagi mereka yang biasa membelinya membuat mereka harus berfikir ulang untuk membeli atau menggunakan cabai dalam proses konsumsi, produksi atau penjualan yang biasa dilakukan.
Krisis pangan khususnya di beberapa negara telah menimbulkan gejolak politik yang mampu menggulingkan rezim penguasa seperti di Haiti, Tunisia dan Mesir. Salah satu pendorong gejolak politik dan demonstrasi menentang pemerintah adalah kenaikan harga pangan kebutuhan pokok masyarakat.
Krisis pangan juga merupakan topik hangat yang diperbincangkan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2011. Namun solusi alternatif yang disepakati adalah menyerahkan peningkatkan produksi pangan sebesar 20% ke perusahaan multinasional (KONTAN, tanggal 29 Januari 2011). Satu solusi yang sarat dengan ide neoliberalisme kapitalis.
Peran korporasi global
Banyak pengamat melihat, rezim perdagangan global turut berperan menciptakan krisis pangan. Meski diakui perubahan iklim global turut mempengaruhi produksi pertanian dan menyebabkan gagal panen, namun pemicu krisis pangan lebih karena ulah tangan manusia. Bukti pertama, peran kapitalis pemburu rente. Berdalih efisiensi distribusi antar negara, pengusaha multinasional mendorong perdagangan bebas pertanian dan pangan. Faktanya, tujuan menggaet keuntungan lebih mendominasi. Kucuran dana investasi kaum kapitalis di sektor industri biofuel karena menghasilkan keuntungan tinggi, telah menyebabkan penurunan lahan pertanian pangan, dan beralihnya produksi bahan pangan menjadi produk pembuat bahan bakar ramah lingkungan ini.
Komoditas jagung menjadi bahan pangan yang mengundang spekulasi. Pasalnya, jagung selain digunakan sebagai bahan pangan juga untuk bahan bakar ramah lingkungan (biofuel). Stok global yang mulai berkurang berimbas pada naiknya harga bahan pangan lain seperti tepung, maizena, dan beras.
Kebijakan biofuel berupa konversi pangan menjadi bahan bakar nabati berkontribusi 75% terhadap melambungnya harga pangan dunia 2 tahun lalu. Jean Ziegler, pelapor khusus PBB untuk hak atas pangan mengganggap, konversi pangan menjadi biofuel yang mengorbankan akses penduduk miskin sebagai kejahatan kemanusiaan.
Kedua, intervensi lembaga keuangan multilateral saat krisis di negara berkembang, termasuk Indonesia. Atas saran Dana Moneter Internasional (IMF) atau Bank Dunia, anggaran dan subsidi pertanian dipangkas. Budidaya pertanian diarahkan pada komoditas perkebunan penghasil devisa untuk membayar hutang. Contohnya, di Haiti beras telah menjadi makanan pokok. Hingga 23 tahun lalu, produksi beras petani sekitar 95% kebutuhan domestik. Atas arahan IMF, negara memangkas tarif impor beras dari 35% menjadi 3% di 1995. Akibatnya, beras dari Amerika Serikat (AS) membanjiri pasar domestik Haiti. Sekarang 75% beras Haiti diimpor dari AS dan petani di sana kehilangan pekerjaan. Hancurlah sistem ketahanan pangan Haiti.
Ketiga, subsidi terselubung negara maju. Impor beras Haiti bukan lantaran petani AS mampu berproduksi lebih efisien atau berasnya lebih enak, namun disebabkan besarnya subsidi. Pada 2003, subsidi pemerintah AS ke petani sekitar US$ 1,7 miliar atau US$ 232 per hektare (ha) tanaman padi. Dari sini, mereka menjual beras 30%-50% di bawah biaya riil. Ketergantungan pangan diciptakan melalui penguatan penetrasi pasar pengusaha besar pangan negara maju ke negara berkembang. Swasembada pangan negara Asia dan Afrika tinggal kenangan.
Keempat, proteksi pasar domestik dengan hambatan non tarif. Meski negara-negara maju berhaluan pasar, mereka tetap menjalankan proteksi terselubung. Misalnya, pasca pemboman World Trade Centre (WTC), AS meluncurkan Public Health Security and Bioterorism Preparedness and Response Act of 2002 (PL 107/188) atau The Biotenorism Act. pada 12 Juni 2002 yang berlaku 12 Desember 2003. Akibatnya 16% dari 226.000 eksportir dunia ke AS terganjal. Di antaranya sekitar 600 eksportir produk pangan dan pertanian dari Indonesia.
Selama ini, Food Drug Administration (FDA) menjadi watch dog yang mempersulit masuknya produk pangan dan pertanian negara berkembang, jika kualifikasi produk dianggap tak memenuhi standar mutu dan labeling AS. FDA menolak dan menahan ekspor kakao Indonesia melalui Operational and Administration System for Import Support (OASIS). FDA dapat menahan produk sekitar 45 hari. Prosedur ini membengkakkan biaya ekspor dan menurunkan daya saing produk negara berkembang.
Kelima, ketidakadilan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengatur subsidi ekspor. Negara maju diizinkan mempertahankan subsidi ekspor sekitar 64 selama 1986-1990. Meski pada periode tersebut negara berkembang memberikan 76 persen subsidi ekspor, secara riil subsidi ekspor bagi petani sangat kecil akibat keterbatasan dana. Uni Eropa memberikan subsidi ekspor tertinggi, hampir 92% atau US$ 29,3 miliar dari total subsidi ekspor dunia pada 1995-2000. Di saat sama 23 negara berkembang hanya mampu memberi subsidi ekspor US$ 1,5 milliar. Adilkah persaingan ini ?
Keenam, akuisisi lahan (land grabbing) swasta besar asing mengancam kemandirian pangan negara berkembang. Petani subsisten dengan penguasaan lahan tak memadai, dipertaruhkan nasibnya. Negara net importir pangan, yang terbatas sumber daya lahan dan air, namun memiliki dana melimpah melakukan land grabbing. Sasarannya negara berlahan subur, seperti Brasil, Rusia, Indonesia, dan Ukraina, maupun negara pertanian miskin, seperti Kamerun dan Ethiopia.
Menurut International Food Policy Research Institute (2009), akuisisi lahan pertanian di negara berkembang sejak 2006 mencapai 15 juta – 20 juta ha atau setengah luas Eropa. Aktor akuisisi ini negara dan dikendalikan swasta (GRAIN, 2008). Tujuannya bukan produksi pangan bagi rakyat setempat namun untuk kepentingan bisnis dan negara investor.
Ketujuh, pengendalian produksi benih oleh korporasi global. Benih bermutu menjadi faktor penting keberhasilan pertanian. Petani menjadi objek eksploitasi perusahaan benih multinasional. Investor Belanda, Korea Selatan, Australia, dan Jepang puluhan tahun berinvestasi benih. East West misalnya, yang dikuasai investor Belanda, menguasai 45% pasar benih hortikultura Indonesia. Pernyataan bahwa produksi pangan dunia tidak boleh hanya diserahkan ke tangan pengusaha agrobisnis dan kapitalisme finansial global mempunyai argumen kuat.
Tidak hanya produksi pangan dunia yang tidak boleh diserahkan pada rezim ekonomi kapitalis global, distribusinya pun tak boleh diserahkan ke mekanisme pasar yang eksploitatif. Jika system kapitalis telah gagal mewujudkan kesejahteraan dan keadilan, maka membuktikan bahwa hanya system Islam lah yang mampu memberikan kerahmatan bagi seluruh alam, sebagai mana janji Nya dalam Al-Qur’an, bahwasanya terapkanlah Islam secara totalitas, maka rahmat bagi seluruh alam. Oleh karenanya marilah kita bersama-sama memperjuangkan terwujudnya institusi pelaksana syara’ secara total yg telah dijanjikan-Nya keniscayaan tegaknya kembali, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah kedua. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: