Muslimah Juga Wajib Berpolitik

13 03 2011

MUSLIMAH JUGA WAJIB BERPOLITIK
Membicarakan peran kaum Muslimah saat ini terasa sangat relevan, apalagi dalam situasi ketika mereka sedang berada dalam tarikan dua ide yang bertentangan satu sama lain. Di satu sisi terdapat gagasan agar kaum Muslimah lebih mengedepankan peran publiknya—baik dalam bidang politik, karir, maupun sosialnya—agar Muslimah tidak terkungkung hanya dalam area ‘dapur-sumur-kasur’. Di sisi lain, kaum Muslimah juga dihadapkan pada peran domestik, yakni menjadi ibu dan pengatur rumah tangga yang baik. Bagaimana Islam sesungguhnya Islam memandang peran domistik dan peran publik perempuan? Bagaimana pula Islam mengharmonikan kedua peran itu dalam tataran praktik?
Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia. Peran utamanya adalah sebagai ibu (ummun) dan pengatur rumah tangga (rabbah al-bayt). Selain itu, sebagai bagian dari masyarakat, perempuan Muslimah juga harus berperan aktif dalam dakwah guna menyelesaikan berbagai problem masyarakat. Keduanya harus bisa dilaksanakan seoptimal mungkin, tanpa perlu mengorbankan satu sama lain.
Sebagai ibu, seorang perempuan, setelah menikah dan hamil, harus bisa menjaga diri dan kandungannya dengan sebaik mungkin. Setelah melahirkan, ia harus menyusui, merawat, dan membesarkan anaknya. Di sinilah seorang perempuan memiliki hak radhâ‘ah (penyusuan) dan hak hadhânah (pengasuhan), sekaligus—bersama suaminya—memiliki kewajiban tarbiyah (pendidikan).
Sementara itu, sebagai pengatur rumah tangga, seorang perempuan Muslimah harus bertanggung jawab terhadap segala urusan kerumahtanggaan agar rumahnya itu secara fisik benar-benar menjadi tempat yang sehat, aman, dan nyaman untuk semua penghuninya; dan secara psikologis bisa memberikan rasa tenteram. Dari sana akan tercipta apa yang disebut rumah tangga yang sakinah.
Menjalankan peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga adalah aktivitas yang sangat mulia. Peran itu akan menentukan keberhasilan rumah sebagai institusi umat yang pertama dan utama, yang melahirkan anak yang berkualitas sebagai penerus generasi. Peran ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Karena itu, peran ini harus dijalankan secara sungguh-sungguh. Karena itu, perlu persiapan matang agar sejak sebelum berkeluarga, seorang perempuan Muslimah tidak terkaget-kaget dan merasa berat dengan beban itu. Pertama, diperlukan persiapan ilmu, yaitu ilmu yang berkaitan dengan bagaimana menjalankan peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, juga peran di tengah umat. Kedua, persiapan fisik. Calon ibu harus memiliki fisik yang sehat agar bisa melahirkan dan membesarkan generasi yang juga sehat. Tanpa fisik yang kuat, peran tersebut tidak akan berjalan dengan optimal. Ketiga, persiapan mental. Kehidupan sebelum dan sesudah berkeluarga tentu sangat berbeda. Kalau sebelumnya hidup sendirian, maka setelah berkeluarga, perempuan akan hidup dengan suami, anak-anak, dan barangkali juga keluarga besarnya. Persoalan-persoalan yang akan dihadapi setelah berkeluarga tentu jauh lebih kompleks karena melibatkan banyak orang. Di sini dibutuhkan kematangan dalam berpikir, berbuat, dan menyelesaikan berbagai masalah.
Dakwah merupakan kewajiban setiap Muslim, perempuan maupun laki-laki. Keduanya wajib menyampaikan, menyebarkan, dan memperjuangkan Islam agar semakin banyak orang yang memahami dan mengamalkan Islam. Dalam konteks sosial, dakwah juga harus dijalankan agar kehidupan bermasyarakat dan bernegara senantiasa berada dalam tatanan yang islami. Rasul yang mulia pernah bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang bangun pagi-pagi dan tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum Muslim).” (HR al-Hakim).
Dakwah yang digerakkan untuk menjawab persoalan masyarakat dan memperjuangkan tegaknya syariat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara disebut juga dakwah politis. Dakwah semacam ini juga harus dilakukan oleh perempuan Muslimah. Misalnya, dengan melakukan pencerdasan kepada sesama kaum perempuan agar mereka sadar dan lebih memahami syariat Islam, khususnya yang berkenaan dengan peran perempuan, melakukan muhâsabah (koreksi) terhadap penguasa agar tetap berjalan di atas rel Islam, serta bersama kaum lelaki berjuang hingga tegaknya kembali syariat Islam dan Khilafah Islamiyah di muka bumi ini
Secara faktual, kaum Muslimah memang tengah menghadapi persoalan besar. Secara umum, saya kira, perempuan Muslimah masih banyak yang belum memahami posisi dan perannya dengan baik. Lihat saja, tidak banyak toh yang terlibat dalam dakwah, apalagi dakwah politis; seolah-olah peran ini hanya milik kaum lelaki saja. Kalau pun ada peran mereka di luar rumah, yang diburu bukanlah peran dakwah, tetapi karir dalam pekerjaan atau profesi yang pada faktanya tidak jarang malah menyimpangkan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Memang, ada perempuan yang berkiprah di medan politik, tapi peran politik itu tidak jarang justru bersebrangan dengan visi dan misi dakwah Islam. Pada saat yang sama, peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dipandang tidak cukup terhormat sehingga banyak yang menjalaninya tanpa penghayatan, sekadarnya, dan seadanya.
Ada beberapa sebab mengapa kaum perempuan tidak dapat menjalankan perannya dengan baik. Pertama, karena tidak adanya pemahaman yang mendalam tentang bagaimana seharusnya peran perempuan dalam pandangan Islam. Kedua, karena adanya opini yang menilai peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga sebagai peran yang kurang bernilai. Karena itu, upaya yang harusnya dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman kepada para perempuan tentang bagaimana seharusnya peran perempuan dalam pandangan Islam dan meng-counter opini-opini yang menyesatkan itu.
Saya melihat, hambatan itu datang dari dua arah. Pertama, dari dalam (internal) perempuan sendiri, berupa keengganan untuk berusaha dan belajar, sikap nrimo (fatalistik), dan ketidakmauan untuk berubah. Kedua, hambatan dari luar (eksternal) berupa tatanan sekularistik yang membuat masyarakat cenderung berpikir dan bertindak tidak lagi berlandaskan nilai-nilai Islam. Ada tarikan kehidupan materialistik yang mendorong perempuan untuk keluar rumah mengejar capaian-capaian material melalui berbagi jenjang profesi, ditambah lemahnya proses edukasi, khususnya terhadap perempuan, bagi tumbuhnya kesadaran islami menyangkut peran perempuan.
Dalam banyak kasus, suami masih belum memberikan dorongan yang optimal dalam peran politik perempuan. Memang benar, kewajiban utama perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, tetapi dia juga punya kewajiban dari Allah untuk menjalankan peran dalam dakwah politiknya. Seharusnya para suami memberikan dukungan penuh agar peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dan peran politiknya itu dapat berjalan optimal. Di sinilah dibutuhkan pengertian dan kerjasama yang baik antar keduanya; kerjasama dalam mengarahkan dan mendidik anak-anak, juga menyediakan pembantu, misalnya, agar aneka ragam urusan rumah tangga bisa dikerjakan dengan lebih ringan. Jika memang tidak ada pembantu, suami juga harus mau membantu istri agar semua berjalan optimal tanpa perlu saling menyalahkan.
Kalau begitu, jelas diperlukan relasi yang sangat baik antara suami dan istri. Lantas bagaimana mewujudkan sinergi relasi laki-laki (suami) dan perempuan (istri) agar peran tersebut bisa dijalankan secara optimal?
Upaya untuk mewujudkan sinergi seperti itu sebetulnya sudah harus diawali ketika akan membentuk keluarga. Harus jelas dari awal, dalam rangka apa dan untuk apa atau apa visi dan misi keluarga yang akan mereka bentuk. Setelah kehidupan rumah tangga berjalan, masing-masing harus menjalankan perannya secara optimal menuju tercapainya visi dan misi tadi. Untuk itu, jelas diperlukan kerjasama, saling pengertian, dan komunikasi yang baik. Dengan cara ini, insya Allah semua peran suami dan istri akan dapat dijalankan dengan baik. Jika semua itu tidak ada, pasti akan timbul persoalan.
Tentu. Saya sangat setuju, karena hanya melalui pencerdasan seorang perempuan dapat menjalankan perannya dengan baik. Untuk mendidik anak agar berkualitas tentu juga diperlukan ibu yang berkualitas, yakni ibu yang memiliki kepribadian Islam yang baik dan wawasan yang luas mengenai perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga maupun pengemban dakwah. []
Wallahu’alam biasshawab.
Hanifah Al-Amanati
foto

Iklan

Aksi

Information

2 responses

23 11 2011
dreamlandaulah

tafadhol

23 11 2011
Khonsa Tsabatiya

saya copas ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: