Media Dijadikan Corong Pertempuran Ideologi

12 03 2011

By: Rahmi Surainah
Ada dua landasan utama dalam “menghidupkan” media massa saat ini, yakni kepentingan ideologi dan kepentingan industri. Pada industri informasi, wacana yang dikomodifikasi menjadi komoditi bukan lagi suatu hal yang bertendensi kebutuhan masyarakat, melainkan menarik perhatian pasar. Sementara dalam tatanan ideologi, media massa sangat berperan penting khususnya pada perspektif kekuasaan.
Wacana yang disajikan kadang di dalamnya ada motif terselubung agar suatu definisi semakin mendapatkan legitimasinya di ranah psikologi publik, maka ia perlu diwacanakan berulang-ulang. Contoh, definisi terorisme disosialisasikan agar memperoleh legitimasi yang kuat sebagai dasar bagi definisi berikutnya. Semakin wacana itu diekspos, semakin kuat kebenaran yang dikandungnya tertanam di benak publik jika tidak maka ada wacana tandingan.
Selain itu, wacana dalam perdebatan antar-partai misalnya melalui perdebatan kasus Century, wacana idealisasi hukum, bahkan terlebih wacana terorisme menjadi headline di berbagai media. Metode isu terhangat tidak terlepas dari model “industrialisasi wacana” (marketing-media). Chris Barker menyatakan dalam Cultural Studies, “Menurut model manipulatif, media dipandang sebagai cerminan dari masyarakat yang didominasi oleh kelas dan ideologi disebarkan secara sadar oleh mereka yang memegang kendali alokatif. Ini adalah akibat langsung dari konsentrasi kepemilikan media oleh orang-orang yang merupakan bagian dari kemapanan atau oleh menipulasi pemerintah dan tekanan informal.”
Penyeragaman wacana, tanpa otoritas konsumen dalam memilih, merupakan konsekuensi kapitalisasi informasi. Akibatnya, opini-opini dan paradigma yang dibangun, baik sadar maupun tidak sadar, menjadi seragam. Hal ini dapat terlihat jelas seperti headline-headline di media cetak yang memposisikan suatu wacana yang sama, misalnya terorisme. Bagitu pula dengan keseragaman “berita terkini” yang berskala per jam di media elektronik.
Perlu dipahami bahwa dalam proses pewacanaan, pesan sebuah teks bukan hanya terdapat di dalam teks itu sendiri, tapi bagaimana teks itu ditampilkan. Makna justru sangat kental dipengaruhi oleh bagaimana teks itu diperlakukan. Wacana memiliki peran penting di sini karena dalam ranah sosial politik, wacana memiliki motif terselubung tergantung ideologi dan kepentingan yang dimiliki oleh yang mewacanakannya.
Saat ini kita menyaksikan begitu banyak pemberitaan yang mengaitkan antara Islam dan terorisme. Keterkaitan antara satu sekte dalam Islam dengan peperangan yang diasosiasikan sebagai jihad, serta merta digeneralisasi bahwa Islam itu identik dengan kekerasan. Kasus kekerasan beragama pun yang semula berada pada pihak muslim yang ingin membubarkan Ahmadiyah sekarang berbalik arah malah ingin membubarkan pihak yang berlaku melawan Ahmadiyah. Padahal bentrok terjadi karena peran pemerintah yang lamban dalam bertindak dan “mandul” menjaga akidah umat.
Kalangan yang dituduh melakukan teroris juga tidak mendapat perlakuan adil dari kalangan media massa. Hampir semua media massa selalu memberitakan terorisme dari satu narasumber; aparat kepolisian. Padahal, kaidah jurnalistik yang paling elementer mengajarkan bahwa sebuah pemberitaan haruslah komprehensif. Bila menyangkut konflik, maka pemberitaan harus dilakukan cover both sides. Meliputi semua pihak yang terlibat. Tapi dalam pemberitaan teroris, kaidah ini ternyata diabaikan hampir oleh 90 persen media massa cetak maupun elektronik. Tidak ada satupun jurnalis yang melakukan investigasi layaknya jurnalisme.
Media massa juga dengan ceroboh memberitakan sesuatu yang terkait dengan ancaman terorisme. Misalnya dalam pemberitaan surat wasiat Amrozy cs. yang menebar ancaman pembunuhan terhadap presiden RI dan sejumlah pejabat negara lainnya. Terbukti kemudian surat itu palsu, dan dalam surat wasiat aslinya Amrozy cs sama sekali tidak menebar ancaman pembunuhan pada siapapun.
Janggalnya lagi, ada sejumlah media massa elektronik yang mendapatkan previllege, keistimewaan dari aparat keamanan dan Densus 88 untuk memberitakan operasi yang mereka lakukan. Malah ada yang diberikan kesempatan mempersiapkan terlebih dahulu peralatan mereka sebelum operasi penyergapan dilakukan layaknya sebuah reality show.
Terlepas dari baik atau buruk media, sudah seharusnya kita sadar bahwa dibalik wacana yang sedang hangat dibahas terdapat kepentingan tersembunyi yakni pertempuran ideologi. Ideologi pasti ingin menancapkan kekuasaan dan menyebarkannya apalagi untuk saat ini ideologi yang sekarang berkuasa adalah kapitalisme. Untuk melawan ideologi maka lawannya pun harus ideologi, Islamlah yang menjadi lawan ideologi saat ini. Ideologi Kapitalisme diemban oleh Barat yakni AS dan sekutunya berusaha untuk menjadi negara super power dengan menjajah negara-negara muslim baik dengan “lembut” menjadikan negara mitra(baca:jajahan) sebagai “negara boneka” atau pun penanganan kasar yang diperangi fisik langsung.
Media adalah sarana dan wasilah, ketika digunakan untuk dakwah atau dalam kebaikan dan melawan penjajah maka media akan benilai pahala sedangkan jika hanya bahan komoditi maka tidak ada bedanya dengan lumrahnya benda. Oleh karena itu, kita harus benar-benar memanpaatkan media dengan sebaiknya dan media pun hendaknya jangan berpihak kepada pemilik modal atau kapitalis dan musuh Islam. Tapi, kemablilah kepada fungsi media yang sebenarnya yaitu menyampaikan dengan objektif, akurat, memihak kepada kebenaran, dan berideologi sesuai dengan keyakinan yang diperjuangkan.
Sebagai kaum muslim, perjuang kita tidak hanya dicukupkan dengan media. Masih ada perjuangan lain yang lain selain menggunakan uslub media walaupun kita tidak bisa lepas dari media. Media yang dimaksud di sini adalah media yang beredar di masyarakat saat ini yakni televisi, radio, dan surat kabar yang sedang terbawa arus kapitalisme. Semoga dengan penyadaran akan penggunaan media, pihak media, pemerintah, atau pun kita sebagai penikmat media mampu menyikapinya dan berjuangan untuk melawan ideologi kapitasme dan memenangkan perjuangan Islam. Daulah Khilafah Islamiyah yang akan menggiring media sesuai penggunaannya yakni sebagai sarana dakwah dan manpaat yang barakah. Mari bersama-sama kita menjadi bagian penolong agama Allah.
Wallahu’alam…

Iklan

Aksi

Information

One response

24 03 2011
green_muslimah

waw..pwngungkapannya kereen..^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: