Buang Bayi Akibat Gaul Bebas

9 03 2011

Kita sempat dikejutkan dengan sosok mayat seorang bayi laki-laki yang ditemukan di toilet salah satu SMA di Surabaya beberapa waktu lalu. Ini bukan kasus yang pertama, tapi sudah sangat banyak remaja-remaja yang dengan tega membuang bayinya. Yang menyedihkan, kasus pembuangan atau pembunuhan bayi hanya merupakan pengulangan yang dianggap biasa. Simak saja, dari tahun ke tahun kasusnya terus meningkat. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA), pada 2009 terdapat 219 bayi yang dibuang di negeri ini, atau naik 53 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Itu baru angka yang diketahui. Yang pasti ada bayi yang dibuang dan tidak masuk hitungan KPA atau luput dari perhatian kita.
Apa sebenarnya salah bayi-bayi itu? Mengapa mereka harus dibuang? Bukankah kehadiran seorang bayi seharusnya memang diterima, disambut dengan gembira, dan dicintai ayah ibunya. Ada banyak alasan kenapa dengan tega para remaja melakukan hal tersebut. Biasanya karena panik saat mengetahui melahirkan. Kepanikan sesaat itu kemudian membuat mereka memutuskan untuk membuang/membunuh bayi yang baru dilahirkan. Ada pula karena untuk menutup aib. Mereka biasanya merasa malu dan akhirnya memutuskan untuk membunuh anaknya sendiri. Atau banyak dari mereka (remaja-remaja) yang sebetulnya belum siap menjadi ibu. Fisiknya mungkin bisa, tetapi kondisi psikisnya tidak siap. Kehadiran si janin di rahim kemudian menimbulkan persoalan rumit, dan tidak jarang dalam kondisi demikian, laki-laki ayah si bayi meninggalkannya. Tidak heran jika saat bayi lahir, si bayi pun segera dibuang si ibu yang seharusnya menyusui dan menyayanginya.
Gaul Bebas, Faktor Penyebab
Hampir sebagaian besar bayi yang dibuang adalah hasil dari pergaulan bebas. Dan pergaulan bebas pada remaja yang kian parah disebabkan karena rangsangan-rangsangan yang semakin subur, terutama melalui media. Tayangan mesum kita jumpai dimana-mana, VCD/DVD porno laris manis terjual, di jalan, mall, dan tempat-tempat umum lainnya, nampak perempuan-perempuan yang berpakaian seronok mengumbar aurat. Bagi para remaja, harus menghadapi kenyataan bahwa energi yang semestinya mereka fokuskan untuk berkarya dan berprestasi, terpaksa harus teralihkan untuk menahan gejolak syahwat yang berpeluang muncul setiap saat. Sementara kecanggihan teknologi memberi fasilitas untuk berkomunikasi dengan siapapun, termasuk dalam mengungkapkan rasa dan gejolak ini kepada lawan jenisnya. Tak jarang komunikasi lewat HP atau dunia maya, berlanjut pula pada pertemuan hingga mengarah pada kedekatan fisik dan penyaluran kebutuhan seksual yang berakhir dengan kehamilan.
Karena itu, Islam hanya memperbolehkan hubungan seks ketika laki-laki dan perempuan resmi diikat dalam dalam perkawinan. Satu-satunya penyaluran yang dibolehkan adalah melalui jalan pernikahan, sebab dengan menikah berarti seseorang telah dapat menyalurkan naluri jenisnya dengan cara yang halal dan terselamatkan dari separuh agamanya, seperti dijelaskan dalam HR Tabrani dan Hakim.

Dra. Zulia Ilmawati, Psi. http://www.hizbut-tahrir.or.id Agustus 2010

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: