PEMIMPIN DAMBAAN RAKYAT

30 11 2010

by Sri Damayanti

Miris memang ketika kita melihat keadaan rakyat dari sebuah negara yang katanya ‘gemah ripah loh jinawi’. Sudahlah barang-barang kebutuhan pokok naik, kelaparan dimana-mana, harga beras naik tetapi harga gabah turun, minyak goreng naik, tempe yang jadi makanan wong cilik juga ikut-ikutan naik. Belum cukup, kebijakan pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah menjadi gas malah menimbulkan masalah baru yang sangat menyedihkan, minyak tanah yang rencananya akan di-nol-kan subsidinya malah hilang dari pasaran, ditambah lagi gas elpiji sekarang jadi langka, kalaupun ada harganyapun melambung tinggi. Anak-anak yang busung lapar atau dengan istilah yang lebih menyakitkan, gizi buruk semakin bertebaran dimana-mana. Saat ini rakyat memang sedang prihatin.
Inilah kondisi riil dari rakyat Indonesia sekarang, coba kita lihat apa yang terjadi atau yang dilakukan pemimpinnya saat ini melihat kondisi rakyat yang sedang terpuruk. Diwaktu yang lalu Presiden SBY bersama 80 duta besar negara sahabat nonton bareng film Ayat-Ayat Cinta di sebuah bioskop. Entah apakah presiden yang saat itu duduk nyaman di tempat duduk empuk diselimuti ruangan yang dingin ber-AC masih ingat dengan rakyatnya yang meronta-ronta karena kehabisan minyak tanah untuk menanak beras yang mereka beli dengan menjual bajunya? Entah apakah presiden yang pada saat itu katanya menitikkan air mata karena haru juga akan menitikkan air matanya melihat rakyat yang sedang merintih karena anaknya menderita gizi buruk?
Belum cukup dengan menonton film, dengar-dengar presiden saat ini sedang menyelesaikan album musiknya yang kedua, hasil penjualannya bukan untuk ngasih makan rakyat, tapi untuk meneguhkan komitmen menjaga HKI (Hak Kekayaan Intelektual). Tidak sampai disini saja, kemarin (2 April 2008) presiden yang maniak hiburan ini mengundang sebuah band pendatang baru, ‘Pilot’, untuk nge-band didepan istana negara bareng Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden) dengan tajuk ‘Parade senja’.
Inilah contoh seorang pemimpin yang telah terpilih pada pemilu yang telah lalu, jika melihat kebelakang terbersit pertanyaan apakah pemimpin yang telah terpilih sekarang sudah sesuai sebagai syarat seorang pemimpin, jika sudah terpenuhi syaratnya mengapa kondisi rakyat tidak berubah? Dari presiden yang pertama sampai yang sekarang sebenarnya jika kita amati tidak membawa perubahan terhadap kondisi bangsa ini. Pergantian pemimpin hanya seperti sebuah budaya saja tanpa tercapainya kebangkitan bangsa.
Tak heran semua ini terjadi, karena pemilu yang dilakukan bukan karena sebuah partai memiliki program-program yang bagus untuk rakyat tetapi mereka menang karena ada permainan uang, rakyat dibayar hanya untuk suara. Pemimpin yang sebenarnya adalah wakil rakyat menjadi tidak aspiratif, karena sudah merasa membayar rakyat pemilihnya dan tak lagi memiliki utang, dan yang ada dipikiran mereka adalah mengembalikan modal dan mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Hanya satu orang saja dari para pimpinan wakil rakyat itu yang kekayaannya di bawah satu milyar. Selebihnya, rata-rata di atas tiga milyar. Bandingkan dengan buruh tani di desa, yang bekerja di sawah dari pagi sampai petang, dan harus dibakar terik matahari, tidak berada dalam ruangan ber-ac, mereka sekarang paling tinggi pendapatannya hanyalah Rp 40.000 rupiah. Sedangkan mereka harus menanggung anak dan isteri.
Wakil rakyat (DPR) juga masih mempunyai agenda membangun gedung baru DPR, yang biayanya Rp 1,7 triliun, dan dana renovasi komplek perumahan di DPR di Kalibata, yang menelan anggaran ratusan milyar. Disamping itu, belakangan terjadi kontorversi, usulan dari Partai Golkar, yang mengajukan dana aspirasi Rp 15 milyar per anggota (DPR). Semuanya dananya itu diambil dari APBN.
Sebuah kehidupan yang sangat paradok antara yang mewakili dan yang diwakili, entah sampai kapan dapat terjembatani. berbagai sumber. Mengapa semua ini bisa terjadi? Bagaimana solusi dari permasalah yang telah ada sejak dulu?
Sebentar lagi bangsa ini memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2010 mendatang. Namun, bak mimpi kemerdekaan itu sebenarnya tak ada untuk bangsa ini. Karena sudah terbukti secara riil kondisi bangsa ini sekarang sedang terpuruk. Mengapa ini terjadi? Inilah gambaran ketika kita melaksanakan sebuah sistem yang berasal dari manusia. Yang semuanya dibuat dengan asas kepentingan, inilah buah dari sistem sekuler-kapitalis yang telah dianut bangsa ini.
Kaum penjajah (musuh-musuh Islam) berhasil membuat bangsa ini tak pernah merdeka, pemimpin ,wakil rakyat negeri ini telah teracuni oleh sistem ini. Mereka bertindak hanya untuk kebahagiaan pribadi bukan yang lain, jika ada janji mereka itu hanya sebagai pemanis yang akan melenakan rakyat.
Inilah lemahnya sistem yang dibuat oleh manusia, yang patut membuat hukum hanyalah Allah yang menciptakan semua manusia, kehidupan , dan alam semesta ini. Jika ingin membangkitkan bangsa ini maka hanya ada satu-satunya solusi yaitu dengan mengembalikan sistem bangsa ini ke sistem Islam. Sistem ini tidak hanya harus diterapkan pada satu bangsa atau wilayah tapi sistem ini harus diterapkan dseluruh dunia karena Dunia ini seluruhnya ciptaan Allah bukan sebagian saja. Sistem ini akan terwujud jika ada sebuah negara yang menerapkannya inilah yang disebut dengan Khilafah.
Sebagai pembanding,sebuah fragmen kehidupan Pemimpin kita yang mulia, penghulu para Nabi, Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi ‘alaihi wa sallam, yang pada waktu itu beliau menjadi pemimpin dari sebuah negara yang kaya raya, Daulah Islamiyyah. Sebagaimana dituturkan oleh Abdullah bin Mas’ud berikut ini:
Aku pernah mengunjungi Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau sedang tidur diatas pasir yang dihamparkan atau tikar yang dijalin sehingga meninggalkan bekas di punggung beliau. Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, andai saja kami mengambilkan untukmu alas tidur yang bisa diletakkan diantara dirimu dan tikar itu, tentu ia akan menjagamu.”
RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“man anaa fii ad-dunya illa karookibin istadlolla tahta syajarotin tsumma rooha wa tarokahaa”
“Tidaklah aku dan dunia ini melainkan seperti seorang pengendara (penunggang) yang bernaung di bawah sebuah pohon untuk beristirahat lalu pergi meninggalkannya.”
At-Tirmidzi dalam az-Zuhd.
Inilah gambaran ketika sistem Islam diterapkan pada zaman Rasulullah dan para sahabat, mereka memimpin tidak untuk kepentingan pribadi tetapi mereka bertindak sebagai pelayan umat. Mereka tak pernah meninggalan aturan Allah, mereka senantiasa terikat dengan hukum-hukum Allah. Apakah layak bagi kita untuk meninggalkan hokum Islam yang telah terbukti mensejahterakan rakyat. Dibulan suci ramadhan ini marilah kita introfeksi diri dan berjuang menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan. Karena keterpurukan yang ada didunia ini hanya akan tuntas dengan peneapan system Islam.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: