DPR: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ATAU DEWAN PEMERAS RAKYAT ?

30 11 2010

By: HERLIYANA

Setiap tahun anggota DPR menerima gaji bersih Rp 900 jutaan.. memperkirakan Rp 511 miliar uang rakyat habis untuk gaji 560 anggota DPR. Ironisnya, gaji sebesar itu tidak diimbangi dengan kerja legislasi yang memadai, anggota DPR justru beramai-ramai bolos kerja. Lebih dari 50% anggota dewan yang terhormat itu mangkir dari rapat tanpa alasan yang jelas. Dan sedikit anggota yang hadirpun larut dalam mimpinya alias tidur ketika rapat. Memalukan. mau dibawa kemana negeri ini?
Pemerintahan diadakan karena ada kebutuhan dan keperluan rakyat yang harus diurus dan dicukupi. Kalau rakyat bisa mengurus kebutuhan dan keperluannya sendiri tidak ada gunanya pemerintahan didirikan. Rakyat mengumpulkan uang dengan membayar pajak untuk menggaji pejabat dalam pemerintahan. Sama artinya dengan seorang majikan yang menggaji para pembantunya. tapi sepertinya para pejabat itu tidak menghiraukan keinginan majikannya (baca:Rakyat) ini terlihat dari kebijakan-kebijakan yang mereka ambil yang hampir semuanya tidak berpihak pada rakyat seperti kebijakan mengurangi subsidi BBM.
Dengan gaji yang besar tapi kerja nol besar mereka tanpa rasa malu sedikitpun meminta fasilitas lebih pada rakyat yaitu Rumah aspirasi yang anggarannya mencapai Rp 209 miliar untuk setiap tahunnya. “Biaya totalnya menjadi Rp 209 miliar, masing-masing anggota DPR mendapat jatah Rp 374 juta,” ujar Wakil Ketua BURT DPR Pius Lustrilanang kepada detikcom, Rabu (4/8/2010). ini Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Pemeras Rakyat ?
Sementara dibelahan bumi Indonesia yang lain Akibat Hutang Rp 20 Ribu seorang ibu nekat bunuh diri dengan membakar dirinya. Peristiwa ini menjadi semakin miris karena ibu tersebut juga membakar kedua anaknya yang masih balita, Rabu (11/8). Dan banyak kasus serupa yang terjadi karena persolan ekonomi. Bahkan menurut hasil sensus BPS tahun 2010 dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta lebih dari 100 juta tergolong miskin (menggunakan standar Bank Dunia 2 dolar AS/hari). Ironis Majikan sengsara pembantu kaya raya.
Kemudian data yang tidak kalah mencengangkan adalah hasil riset PERC (Political & Economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong merilis bahwa Indonesia memiliki indek korupsi hampir “sempurna” ; 9,07 dari angka maksimal 10.
Berbeda sekali ketika Islam dulu diterapkan. Dalam sebuah riwayat diceritakan Suatu ketika, Abu Bakar r.a. pergi ke pasar hendak menjual beberapa kain dagangannya. Saat itu beliau belum lama dibaiat menjadi khalifah. Di tengah perjalanan, beliau berjumpa dengan Umar ra. Umar pun menyapa, “Wahai Abu Bakar, engkau mau kemana?”
“Ke pasar,” jawab Abu Bakar.
Umar berkata, “Jika engkau sibuk dengan perdaganganmu, lalu bagaimana dengan urusan Kekhilafahan?”
Abu Bakar balik bertanya, “Kalau begitu, bagaimana aku menafkahi istri dan anakku?”
“Kalau begitu, mari kita menemui Abu Ubaidah. Dia akan menetapkan santunan untukmu dari Baitul Mal,” kata Umar.
Keduanya lalu pergi menemui Abu Ubaidah. Abu Ubaidah kemudian menetapkan santunan (bukan gaji, pen.) dari Baitul Mal sekadar memenuhi kebutuhan dasar Abu Bakar dan keluarganya untuk setiap bulannya.
Suatu ketika, istri Abu Bakar memohon kepada beliau, “Saya ingin sekali manisan.”
Beliau menjawab, “Aku tidak punya uang untuk membelinya.”
“Kalau engkau setuju, saya akan menyisihkan sedikit dari uang belanja tiap hari sehingga dalam beberapa hari uang akan terkumpul,” kata istrinya.
Abu Bakar pun mengizinkannya. Selang beberapa hari, uang terkumpul. Istrinya lalu menyerahkan uang itu kepada beliau untuk membeli bahan-bahan manisan. Beliau kemudian berkata, “Dari pengalaman ini, aku tahu, ternyata kita mendapatkan santunan berlebihan dari Baitul Mal.”
Akhirnya, uang yang sudah terkumpul itu pun dikembalikan oleh beliau ke Baitul Mal, tidak jadi dibelikan bahan-bahan manisan. Selanjutnya, Khalifah Abu Bakar meminta Baitul Mal agar memotong santunannya sebanyak yang pernah dikumpulkan istrinya setiap harinya.
Tak kalah dengan pendahulunya, Abu Bakar, Umar ra.—ketika menjadi khalifah dan mendapatkan santunan dari Baitul Mal—adalah seorang pemimpin yang sangat zuhud dan wara’.
Suatu ketika, beberapa Sahabat ra., di antaranya Ali, Utsman, Zubair, dan Thalhah berkumpul dalam suatu majelis untuk membincangkan usulan agar tunjangan untuk Khalifah Umar bin al-Khaththab ditambah, karena sepertinya tunjangan itu terlalu kecil. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang berani mengusulkan hal itu kepada Umar ra. Akhirnya, mereka bersepakat untuk meminta bantuan Hafshah, salah seorang istri Nabi saw., yang tidak lain adalah putri Khalifah Umar ra. Ummul Mukminin Hafshah kemudian menyampaikan usul tersebut kepada ayahnya, Umar ra. Mendengar itu, Khalifah Umar ra. bukannya senang; beliau tampak marah. Beliau berkata, “Siapa yang telah mengajukan usulan itu. Seandainya aku tahu nama-nama mereka, aku akan memukul wajah-wajah mereka!”
Khalifah Umar ra. kemudian berkata, “Sekarang, ceritakan kepadaku pakaian Nabi saw. yang paling baik yang ada di rumahmu.”
“Beliau memiliki sepasang pakaian berwarna merah yang dipakai setiap hari Jumat dan ketika menerima tamu,” jawab Hafshah.
Umar bertanya lagi, “Makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah saw. di rumahmu?”
“Roti yang terbuat dari tepung kasar yang dicelupkan ke dalam minyak…,” jawab Hafshah.
“Alas tidur apa yang paling baik yang pernah digunakan Rasulullah saw. di rumahmu?” tanya Umar lagi.
“Sehelai kain, yang pada musim panas dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua; separuh untuk alas tidurnya dan separuh lagi untuk selimut,” jawab Hafshah lagi.
Khalifah Umar ra. lalu berkata, “Sekarang, pergilah. Katakan kepada mereka, Rasulullah saw. telah mencontohkan pola hidup sederhana, merasa cukup dengan apa yang ada demi meraih kebahagiaan akhirat. Aku tentu akan mengikuti teladan beliau….”
Kita harus jujur mengakui, ini bukan sekadar persoalan orang/oknum, tetapi sudah menyangkut sistem. Sistem kapitalis yang bercokol dinegeri ini yang menjadikan materi diatas segalanya sehingga untuk meraih materi mereka menghalalkan segala cara walupun harus mengorbankan orang lain dan merugikan negara. Salah satu buktinya, korupsi di negeri ini sudah sangat ‘membudaya’ dan merata, mulai dari tingkat pemimpin tertinggi hingga pegawai rendahan.
Pertanyaannya, masihkah kita rela hidup di bawah kepemimpinan para pemimpin, pejabat, dan wakil rakyat yang korup seperti sekarang ini? Masihkah kita betah hidup dalam sistem sekular yang terbukti hanya memproduksi para pemimpin yang bobrok dan korup? Belum tibakah saatnya kita merindukan sistem pemerintahan Islam yang pasti akan melahirkan banyak pemimpin yang benar-benar menjadi pelayan ummat?

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: