“Arab Spring” di Arab Saudi

26 12 2012

Oleh Adnan Khan
Saat pergolakan di Timur Tengah yang dikenal dengan “Arab Spring” mendekati ulang tahunnya yang kedua, banyak diskusi yang membicarakan sampai manakah Revolusi Arab itu setelah terjadinya penggulingan terhadap sejumlah penguasa dan munculnya sejumlah partai politik ke tampuk kekuasaan yang telah lama mendukung Islam. Sementara rezim-rezim baru itu masih belum stabil, ada sejumlah negara di mana pemberontakan rakyatnya gagal menggulingkan rezim dan dalam beberapa kasus ada sedikit demonstrasi atau bahkan tidak ada sama sekali. Arab Saudi adalah sebuah negara yang dianggap oleh banyak orang tidak mengalami musim semi Arab. Ada sejumlah alasan mengapa demonstrasi massal tidak terjadi dan secara fundamental rezim mampu untuk menenangkan penduduk karena sejumlah kebijakannya dan karena arsitektur internal keluarga kerajaan Al Saud yang telah dibangun.

Protes-protes yang tidak terjadi di Kerajaan itu dipresentasikan oleh Kerajaan Saudi sebagai protes kecil di daerah-daerah yang didominasi kaum Syiah dan ini menyebabkan sebagian besar penduduknya mendukung tindakan keras atas kota-kota seperti Qatif, al-Awamiyah, dan Hofuf. [ 1] Diskriminasi ekonomi yang jelas karena wilayah-wilayah itu berwajah Syiah dilakukan baik oleh rezim maupun oleh lembaga-lembaga agama karena mereka dipandang sebagai agen Iran. Pemerintah secara kolektif menghukum masyarakat Syiah dengan meminggirkan mereka dalam masyarakat Saudi. Kerajaan mampu melakukan hal ini secara langsung karena mengoperasikan perusahaan-perusahaan radio dan televisi di Inggris dan surat kabar-surat kabar yang disubsidi dan diatur oleh pemerintah Saudi. Sensor pemerintah terus menghantui pers, dan akses legal atas internet harus melalui server lokal, yang dikontrol pemerintah. Kementerian-kementrian kunci diberikan untuk keluarga kerajaan, sebagaimana juga kekuasaan untuk para gubernur di tiga belas wilayah. Kerajaan mengontrol setiap aspek masyarakat sehingga sulit untuk menjatuhkan rezim karena berarti harus menghapus seluruh klan Al Saud.

Faktor lain yang menenangkan rakyat adalah peran lembaga-lembaga agama. Kerajaan telah membentuk jaringan patronase yang banyak dan kompleks, yang meliputi para ulama papan atas. Keturunan Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri Mazhab Wahhabi abad ke-18 mendukung keluarga Al Saud dan dengan demikian melegitimasi kekuasaan mereka. [2] Pos-pos keagamaan yang paling penting terkait erat dengan keluarga Saud Al karena tingginya tingkat perkawinan. Para ulama itu telah mempromosikan keluarga kerajaan sebagai para pembela Islam melalui upaya internasional mereka dalam membangun masjid. Dalam situasi di mana masyarakat mempertanyakan kebijakan-kebijakan tertentu keluarga kerajaan, para ulama akan mengeluarkan fatwa yang membelokkan perbedaan pendapat apapun. Grand Mufti Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menentang petisi dan demonstrasi di tengah terjadinya musim semi Arab, termasuk diantara fatwanya adalah “ancaman besar terhadap perbedaan pendapat internal.” [3]

Kerajaan Saudi mampu menyuap sebagian besar penduduknya dengan uang kas dan janji-janji reformasi. Dalam rangka membendung pemberontakan, Kerajaan mengumumkan serangkaian keuntungan bagi warganya sebesar $ 10,7 miliar. Uang itu termasuk pendanaan untuk mengimbangi inflasi yang tinggi dan untuk membantu orang-orang muda pengangguran dan warga Saudi yang belajar di luar negeri, serta menghapus sebagian pinjaman. Sebagai bagian skema Saudi, pegawai negeri melihat kenaikan gaji sebesar 15%, dan disediakan uang tunai untuk kredit perumahan. Tidak ada reformasi politik yang diumumkan sebagai bagian dari paket itu.

Baris terakhir pertahanan Kerajaan Saudi adalah dinas rahasia Saudi – yakni “Mabahith”. Menurut Human Rights Watch, Mabahith “memonitor terduga lawan-lawan politik dan lain-lain, mentargetkan penangkapan individu tertentu, dan menginterogasi para tahanan. Agen-agen Mabahith beroperasi dengan memiliki impunitas dan telah bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran HAM, termasuk penahanan sewenang-wenang, penahanan terputus-putus, dan penyiksaan “[4] Mabahith bahkan mengoperasikan penjara sendiri – yakni `Penjara Ulaysha di Riyadh [5].

Siapapun yang telah mengunjungi Arab Saudi atau tinggal di negara itu akan merasakan bahwa hiburan publik dan kehidupan jalanan, apalagi protes, jarang ada, karena sebagian orang bersosialisasi di luar keluarga mereka. Kenyataan ini membuat media sosial sangat populer dan twitter baru-baru ini hanya mempertanyakan lebih lanjut atas peran rezim [1]. Untuk saat ini, Kerajaan Saudi telah selamat dari musim semi Arab, namun arsitektur wilayah itu yang cepat berubah dan banyaknya orang yang mempertanyakan dominasi klan Saud pada kehidupan politik negara yang mengalami korupsi besar. Meskipun punya cadangan minyak yang besar, Saudi Arabia memiliki tingkat kemiskinan, yang menurut perkiraan sebagian orang hingga 60% [6]. Pada saat masyarakat Saudi mengakses opini internasional mengenai Kerajaan Saudi melalui media-media sosial, Kerajaan Saudi akan mendapatkan pertanyaan dan tantangan atas pilar-pilar pemerintahannya. (RZ)





Khilafah Memenuhi Kebutuhan Perempuan

26 12 2012

kpi
HTI Press.Jakarta- Berbeda dengan kapitalisme yang eksploitatif terhadap perempuan, khilafah Islam sebaliknya. “Khilafah tidak akan menempatkan wanita dalam penderitaan,” ujar Iffa Ainur Rochmah pada wartawan saat konferensi press Konferensi Perempuan Internasional (KPI), Sabtu (22/12) di Hotel Grand Sahid, Jakarta.

Menurut Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) tersebut disadari atau tidak, sistem yang diterapkan saat ini memaksa bahkan memperbudak perempuan dalam mencari nafkah. Sedangkan khilafah memenuhi kebutuhan perempuan dengan mewajibkan laki-laki menafkahi perempuan.

“Bila perempuan tidak mempunyai keluarga laki-laki untuk memenuhi kebutuhan finansialnya maka negara harus bertanggung jawab memenuhinya,” ujar Iffah.

Ia menambahkan, dalam khilafah perempuan bekerja karena pilihan bukan karena tekanan keadaan. “Martabat dan posisi perempuan ditempatkan dalam area sakral dalam khilafah,” pungkasnya.[] (mediaumat.com, 26/12)





Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi untuk Bangsa

25 11 2012

Guru
HTI Press. Bojonegoro, Ahad 18 November 2012 Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD II Bojonegoro menggelar acara Diskusi Terbatas dengan tema “Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Untuk Bangsa”. Acara ini dilaksanakan di aula SMKN 2 Bojonegoro, Jl. Patimura Bojonegoro, diselenggarakan dalam rangka Hari Guru yang bertepatan pada 25 November nanti. Dihadiri oleh sekitar 70 orang baik internal maupun eksternal dari kalangan guru, mulai guru PAUD hingga guru SMA yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten Bojonegoro. Diskusi terbatas ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ustadzah Mu’jizatin Fadiana, M.Pd (Dosen Universitas Ronggolawe Tuban) yang memaparkan materi dengan tema “Peradaban Islam Mencetak Generasi Berkualitas” dan Ustadzah Khoirin Nisa, S.Pd yang memaparkan materi dengan tema “Peran Strategis Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Bangsa.

Setelah para peserta disuguhkan persembahan teatrikal, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama, dimana ustadzah Fadiana memulai materinya dengan menjelaskan alasan kita memilih Islam, yang secara itiqody/keyakinan hal itu adalah bagian konsekuensi iman, secara rasional, Islam merupakan aturan terbaik dari pencipta manusia, secara normatif, Islam memiliki nidzom (sistem kehidupan) sempurna, dan secara empirik, terbukti Islam telah mewujudkan kemuliaan dan kesejahteraan kehidupan. Untaian pemaparan pemateri pertama membawa para peserta kembali untuk merenungkan dan memahami bahwa peradaban Islam telah berhasil mencetak generasi yang berkualitas. Pemateri kedua, Ustadzah Nisa menjelaskan akar permasalahan yang terjadi saat ini karena kapitalisme sekuler, sehingga sebagai seorang guru, banyak hal yang bisa kita lakukan antara lain, guru sebagai profesi yang mulia, mampu mengembalikan kesadaran generasi sebagai hamba Allah, menjadi teladan dalam berpikir dan berbuat berlandaskan aqidah Islam, dan menyadarkan generasi bahwa untuk menjadi negara yang mandiri, kuat, besar dan terdepan, hanya kembali kepada syariat Islam.

Testimoni dari Ibu Endang, seorang guru dari SMP diwilayah Baureno, diharapkan mampu memompa semangat para guru untuk tetap berjuang mendidik anak bangsa ke arah yang lebih baik. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ustadzah Kusmiah. Semoga acara ini menjadi titik tolak perubahan bagi guru dan pendidik pada umumnya untuk kembali kepada syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah sehingga menghasilkan generasi yang cemerlang. Selamat Hari Guru, 25 November 2012. Jadilah guru ideologis, guru yang jadi teladan dan senantiasa menyampaikan kebenaran.[]





Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi untuk Bangsa

25 11 2012

Muslimah
HTI Press. Bojonegoro, Ahad 18 November 2012 Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD II Bojonegoro menggelar acara Diskusi Terbatas dengan tema “Peran Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Untuk Bangsa”. Acara ini dilaksanakan di aula SMKN 2 Bojonegoro, Jl. Patimura Bojonegoro, diselenggarakan dalam rangka Hari Guru yang bertepatan pada 25 November nanti. Dihadiri oleh sekitar 70 orang baik internal maupun eksternal dari kalangan guru, mulai guru PAUD hingga guru SMA yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten Bojonegoro. Diskusi terbatas ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ustadzah Mu’jizatin Fadiana, M.Pd (Dosen Universitas Ronggolawe Tuban) yang memaparkan materi dengan tema “Peradaban Islam Mencetak Generasi Berkualitas” dan Ustadzah Khoirin Nisa, S.Pd yang memaparkan materi dengan tema “Peran Strategis Guru Dalam Menyelamatkan Generasi Bangsa.

Setelah para peserta disuguhkan persembahan teatrikal, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama, dimana ustadzah Fadiana memulai materinya dengan menjelaskan alasan kita memilih Islam, yang secara itiqody/keyakinan hal itu adalah bagian konsekuensi iman, secara rasional, Islam merupakan aturan terbaik dari pencipta manusia, secara normatif, Islam memiliki nidzom (sistem kehidupan) sempurna, dan secara empirik, terbukti Islam telah mewujudkan kemuliaan dan kesejahteraan kehidupan. Untaian pemaparan pemateri pertama membawa para peserta kembali untuk merenungkan dan memahami bahwa peradaban Islam telah berhasil mencetak generasi yang berkualitas. Pemateri kedua, Ustadzah Nisa menjelaskan akar permasalahan yang terjadi saat ini karena kapitalisme sekuler, sehingga sebagai seorang guru, banyak hal yang bisa kita lakukan antara lain, guru sebagai profesi yang mulia, mampu mengembalikan kesadaran generasi sebagai hamba Allah, menjadi teladan dalam berpikir dan berbuat berlandaskan aqidah Islam, dan menyadarkan generasi bahwa untuk menjadi negara yang mandiri, kuat, besar dan terdepan, hanya kembali kepada syariat Islam.

Testimoni dari Ibu Endang, seorang guru dari SMP diwilayah Baureno, diharapkan mampu memompa semangat para guru untuk tetap berjuang mendidik anak bangsa ke arah yang lebih baik. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ustadzah Kusmiah. Semoga acara ini menjadi titik tolak perubahan bagi guru dan pendidik pada umumnya untuk kembali kepada syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah sehingga menghasilkan generasi yang cemerlang. Selamat Hari Guru, 25 November 2012. Jadilah guru ideologis, guru yang jadi teladan dan senantiasa menyampaikan kebenaran.[]





Palestina Yang Terluka

25 11 2012

palestina

Kembali tanah Gaza basah oleh darah. Zionis Israel kembali berulah dengan melakukan aksi pemboman yang menewaskan ratusan penduduk sipil. Keterangan resmi pihak Hamas mengatakan pada hari keenam (19/11) setidaknya 105 warga terbunuh (insya Allah syahid) akibat aksi serangan biadab Israel yang menyasar jalur Gaza, Palestina. Bahkan menurut informasi tambahan, Pada hari kelima, agresi Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan puluhan syuhada terbunuh dan ratusan terluka di antara warga sipil Palestina termasuk anak-anak, perempuan, dan orang tua. Menurut Palestinian Information Centre (PIC), sejak agresi Zionis rabu kemarin, 69 orang telah menjadi syuhada akibat serangan udara, tank, dan kapal perang Israel, termasuk 20 orang anak-anak, 8 orang wanita, dan 9 orang tua. Kementerian Kesehatan menginformasikan dari 660 orang yang terluka, 135 diantaranya adalah anak-anak, 53 diantaranya berusia dibawah lima tahun dan 224 wanita dan 50 orang tua.
Zionis Israel menggempur Gaza sejak Rabu (14/11). Serangan bertubi itu dilakukan dari berbagai sudut wilayah. Dari udara, jet tempur dan helikopter serbu menghujani pemukiman di Gaza dengan peluru dan rudal kendali. Dari laut, kapal perang mereka juga meluncurkan roket jarak jauh untuk menghantam wilayah yang sama. Hingga Ahad (18/11), tidak kurang dari 50 warga Palestina tewas, kebanyakan adalah sipil, diantaranya adalah bayi berusia sebelas bulan. Sedangkan lebih dari lima ratus lainnya mengalami luka-luka dan kritis. (republika.co.id, 18/11/2012).
Peristiwa pembantaian yang terjadi di Palestina adalah peristiwa pembantaian terlama dan sampai sekarang masih terus terjadi. Kepada siapa dunia berharap untuk melindungi nyawa-nyawa tak berdosa di Gaza? Kepada Presiden Obama? Rasanya Anda akan kecewa. Karena sebagaimana dilaporkan kantor Berita AFP (17/11/2012) Presiden AS ini menegaskan kembali dukungannya terhadap Israel, walau ia menyesali jatuhnya korban sipil.
Kepada negara-negara di sekitar Palestina yang penduduknya mayoritas Islam? Rasanya itu juga harapan kosong, sebab rezim Turki, Qatar, Arab Saudi, Iran, dan Mesir berulang kali menegaskan bahwa peran mereka tidak lebih dari melakukan perang media dan membuat gerakan dana untuk dua otoritas di Gaza dan Ramallah. Mereka diam seribu bahasa pada saat pesawat Israel membombandir penduduk Gaza dengan berbagai senjata dan rudal jenis baru. Kepada PBB? OKI? berharap kepada keduanya seperti menggantang asap.
Dalam suasana seperti ini dibutuhkan pemimpin yang kuat dan mampu menyatukan berbagai kekuatan bukan hanya menyelamatkan penduduk Gaza, tetapi juga melindungi umat yang tertindas di berbagai penjuru dunia. Serta kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai negeri Islam yang kini tercerai berai menjadi 50 lebih negara, Pemimpin dan kepemimpinan itu adalah seorang Khalifah yang memimpin negeri-negeri kaum muslimin yang bernama Khilafah.
Wallahu’alam bish Showab.

by Fitriani





Benarkah Penjajah Israel Tidak Bisa Dikalahkan

25 11 2012

Salah satu argumentasi yang sering dilontarkan oleh pihak-pihak yang ingin menghentikan perjuangan membebaskan Palestina adalah anggapan bahwa Israel adalah negara yang kuat. Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Israel adalah negara yang sangat kecil yang tidak memiliki kedalaman strategis. Sebuah pesawat tempur jet hanya dapat terbang di seluruh Israel (sejauh 40 mil laut dari Sungai Yordan ke Laut Mediterania) dalam waktu empat menit. Tidak memiliki tentara regular yang besar karena penduduknya harus mengandalkan cadangan. Jumlah Populasi Israel yang kecil menambah kepekaan terhadap kerugian sipil dan militer.

Israel, dari awal, mengandalkan migrasi dari berbagai kawasan dunia . Di masa lalu memang banyak yang bermigrasi ke Israel, namun saat ini kecenderungan ini terbalik. Karena kekhawatiran keamanan , semakin meningkat jumlah warga Israel ingin meninggalkan Israel. Sekarang ini , lebih banyak warga Israel yang pindah ke Eropa dan Amerika Serikat daripada sebaliknya.

Dari segi motivasi tentara Israel sangat lemah. Padahal motifasi inilah sangat menentukan kemenangan dalam perang. Tentara-tentara muda tidak mengalami pergulatan ideologis seperti di awal-awal pendirian Israel. Mereka juga banyak bermigrasi karena ingin mendapat kenyamanan hidup seperti perumahan gratis. Namun, mereka pasti berpikir seribu kali, ketika harus mempertaruhkan nyawa mereka. Terdapat fakta-fakta bagaimana prajurit Israel tampak ketakutan menghadapi rudal-rudal yang diluncurkan dari Gaza.

Pasukan konvensional Israel terdiri dari hanya memiliki 176.000 tentara aktif dengan 500.000 tentara cadangan. Persenjataan -yang banyak yang dibeli dari AS- meliputi 600 pesawat tempur. Sementara penduduk Israel hanya 7,5 juta.

Bandingkan dengan Mesir memiliki 240 pesawat tempur F-16 dari total 1200 pesawat udara. Mesir juga memiliki 450.000 tentera reguler. Sementara Turki memiliki 700 jet tempur dengan tentara aktif yang berjumlaah 400.000 personel.

Jumlah tentara regular ini tentu semakin kalau ditambah dengan pasukan cadangan yang bisa diambil dari total penduduk Mesir yang berjumlah 77 juta. Ditambah lagi dengan tentara cadangan dari 72 juta total penduduk Turki.

Persoalan umat Islam sekarang tinggal satu, adakah komando yang mau menggerakkan tentara-tentara regular dengan persenjataannya yang tidak kalah dengan Israel. Tentara regular ini akan didukung oleh jutaan umat Islam yang siap jihad fi sabillah membebaskan Palestina. Motifasi tentara Islam ini juga sangat kuat didasarkan pada aqidah Islam dan kerinduan syahid fi sabilillah.

Komando ini seharusnya muncul dari penguasa Mesir , Turki, Saudi dan Iran. Namun karena hampir seluruh penguasa Arab dan militernya memberikan loyalitasnya kepada Amerika,hal ini sangat sulit diharapkan. Karena itu penggulingan penguasa pengecut ini dan menggantikannya dengan Kholifah yang akan menerapkan sistem Khilafah menjadi sangat penting. Sebab hanya dengan menggerakan tentara lah Israel akan bisa dikalahkan hingga ke akar-akarnya.

Diambil dari situs hizbut-tahrir.or.id





Tentara Israel Penakut dan Pakai Popok

25 11 2012

israel

Mediaumat.com. Jakarta- Banyak kalangan menuturkan sulit untuk mengalahkan Israel. Padahal, menurut Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yahya Abdurrahman hal tersebut hanya berupa mitos-mitos. “Militer Israel bisa dikalahkan walau persenjataan mereka canggih,” ujarnya di hadapan peserta Halqoh Islam dan Peradaban (HIP) Edisi ke 43, Kamis (22/11) di Wisma Antara, Jakarta.
“Militer Israel itu penakut, tentaranya menggunakan Pampers (baca; popok) dan lebih memilih sembunyi dalam tank karena takut tertembak,” ucapnya.
Mitos yang lain menurut Yahya, yaitu dilindungi oleh pelindung yang sangat kuat yakni Amerika. Padahal, Israel hanya dilindungi oleh penguasa-penguasa negeri muslim di sekeliling Israel.
“Ketakutan Israel itu, kalau penguasa-penguasa negeri muslim berbalik menyerang Israel dan tidak melindungi Israel lagi,” imbuhnya.
Yahya melanjutkan revolusi di timur tengah membuat Israel ketakutan. “Jika penguasa negeri muslim itu sadar dan berbalik mengepung Israel. Ibarat mengencingi Israel saja Israel akan tenggelam,” ujarnya.
HIP edisi 43 kali ini bertajuk Mengungkap Motif Serangan Israel Terhadap Gaza, menghadirkan pembicara Hamdan Basyar (Pengamat Timur Tengah), Jendral (purn) Tyasno Sudarto (Mantan KSAD), dan Hafidz Abdurrahman (DPP HTI).diambil dari http://hizbut-tahrir.or.id








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: