PAHLAWAN ISLAM VS PAHLAWAN SEKULER

28 06 2010

by sumi

Pahlawan adalah gelar untuk orang yang dianggap berjasa karena telah berbudi baik terhadap orang banyak. Namun makna ini terbatas untuk negara yang menganut ideologi sekuler. Maka dari itu mudah sekali bagi institusi tertentu memperjuangkan seseorang agar diberi gelar pahlawan asalkan orang tersebut berkontribusi apapun (tidak dibatasi hukum syara) maka akan diberi penghormatan luar biasa karena orang tersebut dianggap oleh orang banyak telah menebar kebaikan saat menduduki suatu jabatan yang cukup berpengaruh. Meskipun sebenarnya yang ditebarkan adalah ide yang merusak dan bertentangan dengan hukum agama. Seperti itulah kalau sistem yang dipakai adalah sekuler, tidak ada hukum agama yang dipakai, caranya melalui pendapat orang banyak jadi mirip dengan pemilu. Berbeda halnya dengan konsep pahlawan dalam Islam. Pahlawan dalam Islam adalah orang yang berani memperjuangkan Islam sampai ia dimenangkan atau mati dalam perjuangan tersebut. Orang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah SWT. Sehingga para pahlawan tersebut benar-benar ikhlas dalam perjuangannya.

Dalam sejarah pemerintahan Islam terdapat beberapa contoh pahlawan-pahlawan luar biasa, sebagai contoh pada masa kekhalifahan Imam Ali as sebagai pemerintahan teladan dan sikap beliau dalam menghadapi para penentangnya, merupakan ihwal yang patut dikaji. Kendati, situasi dan kondisi sosial politik di masa pemerintahan Imam Ali as berbeda dengan kenyataan di era sekarang, namun prinsip dan tindakan yang diterapkan Amirul Mukminin as dalam menyikapi lawan-lawan politiknya bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi setiap pemerintahan di sepanjang sejarah. Amirul Mukminin berupaya menahan diri dan tidak mengijinkan pasukannya untuk memulai pertempuran. Ironisnya, kesabaran dan kearifan yang ditunjukkan Imam Ali as itupun tak digubris. Pertempuran yang lantas dikenal dengan Perang Jamal itu akhirnya berkobar juga. Dan pasukan Thalhah dan Zubair menelan kekalahan besar. Meski sebagai pihak pemenang, namun Amirul Mu’minin as memaafkan pasukan musuh yang tersisa bahkan beliau pun masih bersikap baik kepada mereka. Marwan bin Hakam, salah seorang pemimpin pemberontak kepada sahabat-sahabatnya berkata, “Kita telah bersikap zalim terhadap Ali dan memutus baiat kita kepadanya tanpa alasan. Namun ketika ia berhasil menundukkan kita, tak ada seorang pun yang lebih mulia dan pemaaf yang bisa kita temui setelah Nabi saw kecuali dia (Imam Ali as)”.

SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa. Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui “Siratun Nabawiyah”. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat . perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam di kalangan umat musliminmenghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara dibawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.
Definisi pahlawan dalam konsep Islam tersebut diambil dari penegasan al-Quran: perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah (QS, 2:193) Seluruhnya dan dimana saja (QS, 8:39). Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah. Dan untuk mereka yang lemah laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS, 4:75). Jadi pahlawan menurut konsep Islam adalah orang yang berjuang mempertahankan kebenaran dan menolong umat manusia dari penjajahan fisik maupun pemikiran.

About these ads

Aksi

Information

5 tanggapan

21 11 2012
syifa

lebih UTOPIS mana dengang Boroknya Demokrasi???

3 04 2012
mukhtar

good

30 06 2011
sathri rezany siregar

ini adalah kerja keras kita. kerja keras yang insyaAllak berbuah syurga… perkenankan doa kami ya Allah… khilafah sesaat lagi di bumi ini..
(sathriyasha eza )

26 03 2011
gilang

apakah tidak dipikiirkan konteks saat ini untuk mambangun khilafah ????
nabi apakah menyeru seperti itu…
apa tidak kita membangun masyarakat thoyyibah seperti nabi merubah kejahiliyahan…!!!
terlalu utopis pemikiran ini…
lihat saja orientasi wahyu untuk apa??
lihat misi penciptaan manusia untuk apa??
lihat sejarah mua nabi yang ada untuk apa??
renungkan………………………..

11 11 2010
Alga

keren nihhh,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: