MENGATASI PROBLEMATIKA ANAK BANGSA

19 06 2010

by Faridah Afifah, S.Pd;

Potret Buram Anak-anak Bangsa
Sungguh luar biasa banyak fakta yang menunjukkan potret buram dunia anak bangsa kita saat ini. Berbagai data menunjukkan kelamnya nasip anak-anak bangsa kita di seluruh pelosok negeri ini seolah-olah tidak bisa berakhir Berita–berita di media elektronik(TV) akhir-akhir ini masih dihiasi kasus-kasus penelantaran anak-anak oleh orangtuanya, juga penyiksaan anak oleh orangtua/orang terdekat mereka bahkan pembunuhan terhadap anak-anak juga terjadi. Di samping kasus-kasus diatas juga terjadi banyak hak-hak anak yang terabaikan, termasuk hak memperoleh pendidikan karena mahalnya biaya. Sehingga banyaknya anak-anak usia sekolah yang berkeliaran memilih ‘bekerja’ bahkan banyak yang menjadi gepeng. Data menyebutkan sebanyak 12 juta anak Indonesia putus sekolah. Disamping itu banyak juga terjadi kasus penculikan anak/anak hilang. Menurut data komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selama tahun 2010 terjadi sebanyak 97 kasus penculikan anak. Begitu banyaknya juga anak-anak yang mengalami gizi buruk, menjadi korban narkoba, juga pergaulan bebas, dll. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana mengatasi masalah-masalah yang membelit anak-anak bangsa kita?

Anak-anak idealnya dididik agar menjadi generasi penerus yang handal demi kelangsungan kehidupan masyarakat dan negara pada masa mendatang. Sesungguhnya anak-anak adalah peletak masa depan orang dewasa, masa depan bangsa dan masa depan peradaban. Entah bagaimana masa depan bangsa kita bahkan dunia ini jika anak-anak kita masih berada dalam kenestapaan dan keterpurukan seperti kondisi saat ini. Tentu kondisi ini tidak bisa dibiarkan, karena berarti mempertaruhkan nasib seluruh umat manusia.

Melihat problematika anak diatas, sesungguhnya akar masalahnya itu sistemik. inti persoalannya adalah perampasan hak-hak anak baik yang dilakukan oleh orangtua/keluarga, masyarakat bahkan negara. Contohnya, pada umumnya penelantaran, kekerasan bahkan pembunuhan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tuanya diakibatkan beratnya menanggung beban hidup dalam kemiskinan. Sehingga dalam hal ini solusi untuk mengatasi hal tersebut yang berupa kriminalisasi orangtua seperti dalam UU Perlindungan anak, jelas tidak proporsional. Misalnya, dalam pasal 77 UUPA, Orangtua yang secara sengaja menelantarkan anak bisa dipidanakan. Jika pasal ini dijadikan pijakan, anak-anak bisa dengan mudah dipisahkan dari orangtuanya dengan alasan dipelihara negara. Ini bisa menjadi bomerang bagi anak-anak. Oleh karena itu penyelesaian masalah ini harus menyentuh juga penyebabnya dalam hal ini mengatasi kemiskinan struktural yang ada ditengah masyarakat.
Selain itu banyaknya kasus gizi buruk yang menimpa anak-anak, juga banyaknya angka anak-anak putus sekolah akar masalahnya selain kemiskinan juga lemahnya tanggungjawab negara/pemerintah dalam mengurusi rakyat, khususnya dalam hal pemerataan kesejahteraan, dan jaminan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang mudah bahkan gratis kepada anak-anak/ setiap warga negara.

Solusi Islam mengatasi Problematika Anak

Munculnya berbagai problematika anak di atas merupakan akibat dari penerapan sistem hidup kapitalisme sekulerime yang memberikan penelantaran atau pengabaian terhadap hak-hak anak, sehingga dalam hal ini Islam menetapkan perhatian terhadap anak dan pemenuhan hak-hak mereka menjadi hal yang sangat penting. Hak-hak anak ini yang dirumuskan berdasarkan dalil-dalil syariah, antara lain meliputi; Hak hidup, mendapatkan nama yang baik, mendapatkan penyusuan, mendapat kasih sayang, mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga, hak mendapatkan pendidikan, dan mendapatkan kebutuhan pokok sebagai warga negara. Hak-hak anak ini menjadi tanggungjawab keluarga dan negara untuk memenuhinya. Dengan pemenuhan hak-hak anak oleh setiap pihak yang bertanggungjawab, maka anak-anak akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi berkualitas.
Anak-anak memiliki posisi yang istimewa dalam Islam. Selain sebagai cahaya mata keluarga anak juga pelestari pahala bagi orangtuanya. Bagi sebuah keluarga anak adalah penerus nasab (garis keturunan). Anak-anak shaleh akan senantiasa mengalirkan pahala bagi kedua orangtuanya, sekalipun keduanya telah wafat. Dengan demikian, selayaknya orangtua muslim memelihara dan memperhatikan pendidikan anak-anaknya agar mereka menjadi shaleh dan shalihah. Kesadaran akan pentingnya mendidik anak shaleh akan memotivasi setiap orangtua muslim untuk memperhatikan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya agar menjadi pribadi-pribadi yang mulia. Perhatian terhadap pendidikan yang menghasilkan iman dan takwa yang kuat akan menjadi perhatian bagi setiap keluarga muslim.
Bagi sebuah bangsa dan Negara, anak adalah generasi penerus masa depan. Anak pada masa depan adalah aset sumber daya manusia yang sangat berharga serta menentukan jatuh bangunnya sebuah bangsa. Anak juga menjadi pewaris masa depan yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Perhatian Islam terhadap anak menunjukkan pentingnya posisi anak dalam ketahanan masyarakat dan negara. Generasi yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh kepada Allah SWT akan mengisi setiap ruang kehidupan umat Islam. Dalam keluarga muslim yang dijiwai oleh keimanan dan ketakwaan yang solid akan menghasilkan anak-anak yang menjadi sumber daya manusia yang tangguh yang akan berkontribusi bagi kemajuan umat. Sebagai bagian dari masyarakat, generasi muslim akan senantiasa berperan dalam meluruskan setiap penyimpangan yang terjadi di tengah masyarakat. Bila generasi seperti ini menjadi pemimpin maka ia akan membawa bangsa dan negaranya menjadi pemimpin umat yang menebarkan kemuliaan Islam disegala penjuru.
Penyelesaian berbagai persoalan anak harus meliputi penyelesaian problem dalam bidang ekonomi (kemiskinan), pendidikan, sosial, dan hukum yang memerlukan penataan sistem politik yang menyeluruh. Negara dalam Islam juga menerapkan sistem Ekonomi Islam yang akan menjamin pemerataan kesejahteraan bagi setiap warga negara. Negara wajib menjamin terselengaranya pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi setiap warga negara, fasilitas kesehatan yang mudah diakses, dan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Negara dalam Islam akan menerapkan sistem hukum Islam yang tegas bagi pelaku kekerasan/pembunuhan/penculikan terhadap anak, Semua ini hanya akan terwujud jika kita menerapkan sistem Islam secara total/menyeluruh dalam naungan negara Islam (Khilafah Islamiyah). Sistem inilah yang akan menjamin kepemimpinan yang bertanggungjawab; sebuah makna tanggungjawab yang sesungguhnya karena merupakan konsekuensi dari keimanan kepada Allah SWT. Pemerintah (Khalifah) dalam sistem Islam adalah pelayan dan pengayom seluruh rakyat. Dengan sistem Islam yang diterapkan akan mampu menjamin terpenuhinya semua hak-hak pokok warga negara termasuk hak-hak setiap anak bangsa. Hanyalah dengan sistem Islam secara kaffah dibawah naungan kekuasaan islam (khilafah) semua problematika kehidupan kita termasuk problematika anak-anak bangsa kita akan dapat diselesaikan secara tuntas. Wallahu’alam bishshawab.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: