Dinantikan…! Peran Politik Muslimah Intelektual Kampus

6 05 2010

Oleh : N. Jannah

Perhelatan Muktamar Muballighah Indonesia (MMI) di Istora Senayan Jakarta, pada 21 April 2010 berlangsung penuh khidmat. Sekitar 6.000 muballighah, ustadzah, dan pengelola majelis taklim, serta pembina pondok pesantren putri dari 138 kota di 18 provinsi Indonesia hadir dalam acara ini. Tujuan acara ini adalah guna meneguhkan komitmen para muballigah dalam perjuangan penegakan syariah dan khilafah.
Para muballigah menyampaikan pesan utama yakni urgensi penegakan khilafah dan keagungan amalan sebagai aktivitas dakwah dalam Islam. Para muballighah tidak hanya bisa kita pandang menyukseskan urusan peran perempuan sebagai ibu dan manager rumah tangga (melaksanakan peran perempuan di sektor domestik) namun mereka pula lah yang menyentuh masyarakat grass root, di level bawah (peran perempuan di sektor publik)
Orasi pertama yang disampaikan Ustadzah Asma Amnina dengan tema “Khilafah Pembebas Perempuan dari Cengkeraman Kapitalisme” mampu menyadarkan peserta akan pentingnya Khilafah Islamiyah. Pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah, umat Islam di seluruh dunia hidup di bawah naungan sistem kapitalis-sekuler. Sejak saat itulah umat Islam mengalami kemunduran yang luar biasa. Persoalan demi persoalan, krisis demi krisis terus mendera umat diberbagai lapangan kehidupan.Baik dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, hukum, politik , dan pendidikan.
Kondisi itu diperparah dengan munculnya gagasan Gender equality, yakni upaya menyetarakan diskriminasi dari beban-beban yang menghambat kemandirian, sekalipun dengan cara menghilangkan nilai-nilai budaya dan agama. Beban itu antara lain perannya sebagai ibu yakni : hamil, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga. Lalu berbondong-bondonglah kaum perempuan meninggalkan kodratnya. Mereka berlomba-lomba mensejajarkan diri dengan laki-laki. Namun begitu mereka memasuki ranah publik, eksploitasi habis-habisan atas diri merekalah yang terjadi. Kaum perempuan menjadi obyek eksploitasi sistem kapitalisme yang memandang materi adalah segalanya.
Dampak lanjutannya, struktur keluarga pun mulai goyah. Keluarga kian kehilangan fungsinya. Tak lagi menjadi rumah ideal tempat berlindung dan membina kasih sayang antar penghuninya, sebagai masjid dan madrasah tempat menggembleng kepribadian Islam serta daya juang dakwah mereka. Anak-anak tumbuh tanpa bimbingan orang tua terutama ibu.
Orasi kedua disampaikan Ustadzah Irena Handono dengan tema “Khilafah Menghentikan Konspirasi Global Menghancurkan Bangsa melalui Perempuan” Beliau mengatakan bahwa dengan penerapan Syariat Islam tidak akan melarang kaum perempuan memberdayaakan dirinya diluar rumah menuntut ilmu dan berkarya selama suaminya mengizinkan, serta tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga telah ditunaikan dan kehormatan nya tetap terjaga.
Sesungguhnya hanya sistem Khilafahlah yang akan memuliakan perempuan. Sistem yang telah menghantarkan perempuan pada puncak kebaikannya, yakni melahirkan generasi pemimpin yang cemerlang atau menjadi perempuan alim dan faqih yang diperhitungkan.
Khilafah adalah satu-satunya bentuk sistem pemerintahan yang difardukan oleh Allah Rabbul’alamin. Sistem inilah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya ridwanullah ‘alaihim dan telah dijalankan oleh para khulafaur rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya. Sistem ini ada untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam, mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia.
Demikian pula hingga akhirnya orator ketujuh Ustadzah dedeh Wahidah Ahmad melanjutkan pemaparan orator sebelumnya. Dengan tema “Peranan dan Tanggung Jawab Mublighoh dalam Menegakkan Khilafah” beliau menyampaikan betapa peran mubalighah sangat strategis di masyarakat.
Muballighah adalah simpul umat, yang menjadi tempat bergantung dan menjadi rujukan atas persoalan-persoalan keumatan, sekaligus menjadi penjaga soliditas mereka. Dengan melihat potensi strategis ini, maka muballighah selayaknya menjadi sosok pionir perubahan, mengajak dan memimpin umat untuk berjuang bersama meraih kemuliaan.
Ada beberapa karakter mubalighah sebagai pewaris Nabi, yakni sebagai lambang iman dan harapan umat. Mubalighah tak kenal lelah memberikan petunjuk dengan hanya berpegang pada Islam. Merekalah yang siang hari membina umat dan membentenginya dari kekufuran, kezhaliman, dan kefasikan. Sementara, pada malam harinya, mereka duduk, sujud bersimpuh, lalu tepekur dalam doa bagi kemuliaan umat Muhammad ini.
Untuk itu mubalighah harus mengambil peran politik, yakni membina umat dan menjaga kejernihan pemikirannya, membangun kesadaran politik umat (wa’yu siyasi). Yaitu kesadaran umat tentang bagaimana mereka memelihara urusannya dengan syariat Islam. Sehingga akan muncul para muslimah yang pandai mengurus diri, keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Ia juga pandai mendidik anak, melahirkan generasi Islami, dan berjuang di tengah masyarakat, memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan dengan solusi Islam, melakukan kontrol dan koreksi terhadap penguasa (Muhasabah lil-Hukkaam). Membela, menjaga, dan mendukung upaya penegakkan syariah dan khilafah serta para pejuangnya. Menjadikan diri dan keluarga Menjadikan diri dan keluarga sebagai tauladan umat baik dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, maupun perjuangan Islam.
Begitupula dengan para muslimah intelektual kampus, memiliki peran dan posisi strategis yang serupa. Mereka layaknya “para mubalighoh” yang berada dalam medan kampus yang turut berkontribusi memperjuangkan Islam. Andakah orangnya?

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: